Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Belajar Makna Dari Si Burung Merak WS Rendra

August 13, 2009

REKIBLIK ETEKEWER XI – WS. RENDRA, KEGAGAHAN RAJAWALI & KEANGGUNAN BURUNG MERAK

MS Rendra merupakan sosok budayawan yang kaya akan khasanah kata dan makna, dapat dijadikan guru dalam dunia kehidupan manusia yang mengenal peradaban, baik sisi kesenian, pemahaman hidup, kebudayaan dan sebagainya. Belajar makna dari si burung merak WS Rendra adalah belajar menyelami sosok WS Rendra, kegagahan rajawali dan keanggunan burung merak. Belum usai catatan haru biru kemarin, hari ini bertambah satu lagi khasanah  kesedihan. Burung Merak yang anggun & Rajawali yang gagah telah kembali kerumahnya dalam tenang dan hening.

Wonten nopo mbah, kadosipun kok duko (ada apa mbah, sepertinya kok sedih), tanya cucu sambil perlahan duduk disamping simbah menikmati malam di beranda rumah. Simbah cuma merenung ngger, semakin banyak saja orang-orang bijak yang dapat dijadikan teladan dan guru pergi meninggalkan kita. Meski kita berada di belahan tempat berbeda ngger, tapi karya seni dan budaya itu mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Oleh sebab itu kita bisa menikmati karya-karya besar itu. Duka di negri Rekiblik Etekewer karena kehilangan Sang Maestro adalah duka dan kehilangan kita juga ngger, itulah kekuatan seni dan budaya.

Iya mbah, mungkin sejak hari ini kita tidak lagi dapat menikmati karya-karya besar Sang Maestro seni itu ya mbah... bukan saja seni yang tersuratkan dalam tulisan melainkan lebih dari itu ya mbah, terejawantahkan dikehidupannya sehari-hari, dalam sikap, pemikiran, hidup yang sederhana, kritis dan guratan-guratannya yang dalam makna dan hakekat, menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Di sini kamu bisa lihat ngger, bagaimana Maestro itu berkuasa atas hati dan pikirannya yang merdeka. Namun kemerdekaan itu mampu dimaknai dengan keanggunan bagai Burung Merak, wibawa bagai Rajawali mencengkeram kuat idealisme sikap dan pemikiran namun juga menyatu dengan bumi... Itulah ngger meski sekeras apapun yang dilontarkannya, siapapun yang ditujunya dapat menerimanya dengan senyum tanpa rasa ketersinggungan. Sebuah anugrah talenta dari Yang Maha Agung untuk memaknai negri Rekiblik Etekewer.

Simbah juga merasa kehilangan satu lagi sosok teladan bagi jiwa-jiwa hening. Simbah hanya berharap semoga di Rekiblik Etekewer masih menyimpan berlaksa Maestro lain yang akan muncul pada waktunya dan dapat dijadikan guru dan teladan bagi siapa saja, tanpa terbatasi dan tersekat dimensi waktu dan ruang ngger...

... Aku mendengar suara,

jerit mahluk terluka...

luka...luka...hidupnya...luka...

orang memanah rembulan...

burung sirna sarangnya...

sirna...sirna...hidup redup...

alam semesta...luka....

...Orang-orang...harus dibangunkan...

aku bernyanyi...menjadi saksi...

banyak orang...dirampas haknya...

aku bernyanyi...menjadi saksi...

kenyataan...harus dikabarkan...

aku bernyanyi...menjadi saksi....

                        (Karya: ws.rendra - kantata taqwa)

Coba kamu selami salah satu karyanya itu ngger, betapa sangat dalamnya makna, hakekat yang termaktub dan terkandung, tegas dalam sikap, tapi lihat bahasanya yang begitu anggun dan lembut, mengajak orang untuk terjaga dan bangkit... bahwa kenyataan dan kebenaran haruslah selalu dikabarkan, bukan justru ditutupi dengan berbagai bentuk dalih kepentingan, sebab sepahit apapun itu tetap haruslah dikabarkan. Suatu bentuk pembelajaran tentang kejujuran nurani yang mungkin saat ini sudah menjadi barang langka di negri Rekiblik Etekewer.

Nyuwun sepurone Gusti (mohon amupunNYA Gusti)...kadang simbah terlintas pikiran, kok malah sosok-sosok bijak, sederhana yang  dapat dijadikan teladan banyak orang to yang selalu dipanggil dulu, kok bukan justru orang-orang yang notabene nggragas, kemaruk, kisruh, usreg dan sukanya nyrimpeti orang banyak, yang adigang adigung adiguno, munafik, yang sukanya mengambil hak orang lain, intinya orang-orang yang perilakunya pantas diamblaskan ke dasar bumi.... lho simbah ini bagaimana to, kata simbah kalau nggak gitu terus setan nggak punya bolo, ya to mbah... he...he...he... iya bener ngger, ceritanya kamu ngritik dan ngingatkan simbah to...he..he.. he.. bagus ngger, itu sikap yang bagus, mengingatkan. Makanya tadi khan simbah sudah mohon maaf dulu to ke Gusti Allah, karena terkadang terlintas pemikiran tersebut, lha wong simbah juga manusia jeee....he...he...he...

Untuk beberapa saat suasana hening, simbah larut dalam pikirannya dan aku juga larut dalam pikiranku... malam ini simbah memberiku sebuah pelajaran berharga tentang sosok-sosok yang pantas dijadikan guru dan teladan dalam memaknai hidup yang ibarat orang katakan cuma sekedar mampir minum saja. Bagaimana hidup yang singkat ini dapat memaknai dan menjadi makna berarti bagi setiap orang siapapun dia.

Dalam keheninganku, aku ingin terbang bagai rajawali di ketinggian hening, mengurai satu-satu makna yang terlupakan, menatap tajam peradaban, mencengkeram erat hakekat nurani, melukis cakrawala dengan kuas embun pagi... ach akupun terbawa dalam keheninganku.

Selamat jalan Burung Merak, selamat jalan Rajawali gagah, selamat jalan maestro, melangkahlah dengan tenang dan senyum menyambut haribaan Sang Pencipta yang menyambutmu, doa kami selalu mengiringimu. Engkau adalah guru dan teladan bagi berlaksa-laksa jiwa hening....selamat jalan sahabat jiwaku, selamat jalan WS.Rendra, terimakasih untuk semua pengajaran dan pembelajaranmu, TUHAN bersamamu selalu, Amien. Belajar makna dari si burung merak WS Rendra merupakan pengayaan khasanah tersendiri.

Go Back

Indonesia memang kehilangan WS Rendra, tetapi buah karyanya (naskah drama, puisi, dll) akan memperkaya seni sastra Indonesia.

Karya agung yang tidak akan pernah hilang, semoga semakin tumbuh bagai jamur di musim penghujan rendra-rendra baru... Karya sastra memiliki umur seiring umur peradaban manusia.

join

Bung Fadli,
silahkan kawan, dengan senang hati dan jiwa terbuka



Comment