Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Bencana Gempa Bencana Pemimpin

September 9, 2009

REKIBLIK ETEKEWER XIII – BENCANA GEMPA BENCANA PEMIMPIN 

Duh GUSTI ALLAH... nyuwun pangesaminipun, sedoyo kelepatan poro kawulo lan mugi-mugi GUSTI ALLAH tampi sedoyo arwah ingkang sampun dadhos korban gempa lan kepareng lenggah sesarengan wonten ndalem GUSTI ALLAH... duh Gusti nyuwun pangesaminipun, Amien. Sangat jelas terlihat wajah sedih dan duka Simbah yang teramat dalam melantunkan doa dengan bahasanya untuk para korban gempa yang melanda saudara-saudara di Rekiblik Etekewer.

Ngger... terdengar Simbah memanggil tanda sudah selesai, sampaikan pada angger Lurah Subayud agar besok malam kawulo Perdikan Guyubrukun dikumpulkan untuk doa bersama, mendoakan para arwah korban bencana gempa jawa dan para keluarga yang ditinggalkan, sekaligus juga mendoakan para pemimpinnya agar tidak membawa bencana untuk para kawulonya. Nggih Mbah... kebetulan Pak Lurah ada pertemuan di bale pagi ini, jadi bisa langsung disampaikan sekalian kepada para pembantunya. Yo wes... kalau gitu segera saja kesana Ngger mumpung masih berlangsung pertemuannya.

Selesai menyampaikan pesan Simbah pada Pak Lurah Subayud, langsung pulang untuk menyampaikan bahwa pesan Simbah sudah diterima Pak Lurah. Simbah yang kebetulan berada di halaman samping bertanya pada cucunya, bagaimana ngger... sudah Mbah, sudah diterima Pak Lurah dan langsung diumumkan kepada para perangkat perdikan, bahkan langsung dibentuk panitia kecil seperti biasanya. Kepanitiaan dibagi dua, yang satu ngurusi untuk doa bersama besok malam, yang satunya ngurusi untuk bantuan, rencananya perdikan ini ingin sedikit meringankan beban saudara-saudara di Rekiblik Etekwer yang tertimpa bencana, terutama untuk anak-anak, bayi, ibu-ibu hamil serta para orangtua dan sebagainya yang sekiranya dapat sedikit membantu Mbah. Bagus.. Simbah tampak bersinar raut wajahnya, itu pertanda bahwa nurani kita sebagai manusia masih tetap hidup dan dijaga, penting itu ngger...

Kalau dulu kamu sudah sering dengar istilah ”anak polah bapa kepradah” akhir-akhir ini justru menjadi lain ngger, terutama sejak tahun 2000 an. Istilah itu sudah berubah menjadi ”pemimpin polah kawulo kepradah”. Sama-sama berbicara tentang polah dan kepradah, tetapi sangat berbeda maksud dan artinya. Yang satu adalah sebuah kewajaran sebagai bagian dari tanggungjawab dan kehidupan bapak, tapi yang satu lagi itu sudah tidak wajar dan sangat keterlaluan dalam suatu kepemimpinan.

Kalau anak polah bapa kepradah itu wajar, karena sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban seorang bapak terhadap anaknya, bagaimana dalam mendidik dan mengajari anak dengan baik dan benar, anak merupakan bagian dari tanggungjawab seorang bapak dan itu tidak bisa dipungkiri atau dielakkan, memang harus demikian. Hal ini merupakan satu kesatuan siklus kehidupan tentang anak dan bapak, siklus itu akan bergulir demikian seterusnya dari generasi kegenerasi berikutnya. Nyiaakkk...Simbah mengeluarkan satu kasanah kata nglondhonya ”siklus” (cucunya mbathin)

Berbebeda halnya dengan pemimpin polah kawulo keparadah, ini merupakan suatu bentuk yang sangat keterlaluan (negatif) dalam sebuah kepemimpinan. Pemimpin itu ada karena ada yang dipimpin yang menginginkannya untuk memimpin, pemimpin itu pelayan. Dalam konteks ini seharusnya yang terjadi adalah pemimpin obah kawulo sejahtera, bukan pemimpin polah kawulo kepradah. Wwwiiiuuhhh... satu kasanah kata nglondho lagi keluar ”konteks” (masih sambil mbathin). Kamu itu kenapa tho ngger dari tadi Simbah ngomong kamu senyam-senyum gitu, anu Mbah.. menyimak sambil menghitung khasanah nglondhonya Simbah he...he...he... jhan kamu ini kok ya sempat-sempatnya lho...

Kawulo itu secara de facto memiliki kekuatan yang sangat besar, namun selalu dikalahkan dengan de jure menggunakan alih-alih kekuasaan. Coba kamu lihat, setiap kali terjadi musibah dan bencana, sebagian besar yang terkena selalu kawulo, meski demikian tak satupun yang mengeluh dan menghujat khan?... itu salah satu bukti kawulo itu memiliki kekuatan yang sangat besar, ketahanan mental yang sudah tertempa oleh berbagai macam kesulitan hidup, berbeda dengan pimpinan yang rentan mentalnya karena selalu dimanjakan fasilitas dan kemudahan. Dalam musibah dan kesulitan, siapa yang disambati kawulo ngger, Gusti Allah khan?... kok bukan ke pemimpinnya?... ini artinya apa, kamu pikir sendiri ngger, pahami sendiri kamu khan sudah bisa mikir... nggih mbah... Tapi ada satu hal yang kamu bisa contoh karena itu memang contoh yang sangat mulia Ngger, coba kamu perhatikan para relawan, dengan segala keterbatasan masih mau membantu para saudara-saudara lain yang sedang tertimpa musibah bencana, kamu harus belajar pada kemuliaan hati para relawan bencana itu Ngger, mereka adalah sosok-sosok yang kaya hati dan jiwanya.

Kawulo itu membutuhkan seorang pemimpin dengan leadership yang kuat, ketika terjadi suatu musibah atau bencana, pemimpin itu akan tampil untuk membuka jalan penyelesaian terhadap kesulitan yang terjadi, mulai dari menghimbau, mengajak, memobilisisasi segenap komponen negri untuk melakukan sumbangsih membantu saudara-saudaranya yang sedang tertimpa musibah. Tehnisnya banyak dan macam-macam, apakah dengan menghimbau para dermawan untuk menyumbangkan sedikit rejekinya ke nomor-nomor rekening yang disediakan untuk bantuan dan sebagainya. Yang paling penting adalah memobilisasi sedemikian rupa agar bergerak langsung.

Pertanyaannya, bencana gempa bencana pemimpin atau justru pemimpin membawa bencana?... semua itu tergantung bagaimana obahnya pemimpin tersebut, segera berbuat untuk kawulonya atau tidak. Bencana itu selalu berulang dengan bentuk yang hampir sama, hanya waktunya yang berbeda, dengan demikian terekam menjadi sebuah sejarah bencana, mestinya sejarah ini dipelajari dan dikaji untuk dapat menetapkan suatu bentuk antisipasi dan persiapan jika seandainya kedepan terjadi lagi di daerah lain, bukan dibiarkan begitu saja seperti sebuah berita gosip. Pemimpin yang belajar adalah pemimpin yang akan membawa sejahtera, pemimpin yang tidak mau belajar  menjadi beradab akan membawa bencana. Rusaknya hutan, semrawutnya tata ruang, hilangnya kearifan tradisional dan sebagainya itu merupakan buah pemimpin yang tidak belajar, akhirnya menimbulkan bencana. Jangan sampai kawulo sudah hidup dalam kesulitan demi kesulitan, eh pimpinannya malah sibuk ngatur strategi untuk mencari, mendapatkan dan melanggengkan kekuasaan, sibuk dagang sapi (istilahnya) ini geblegh namanya.

Musibah dan bencana itu merupakan misteri kekuasaan GUSTI ALLAH sebagai bagian dari kemahaanNYA. Meski demikian manusia dan pemimpin dapat mempelajarinya sebatas tingkat kemampuan manusianya sebagai bentuk antisipasi kedepan. Kehidupan saling menghormati dalam keberagaman budaya, agama, kepercayaan, kultur, tradisi, kearifan tradisional dan sebagainya harus di Amini dan dipegang teguh oleh seorang pemimpin, sebab semua itu ada karena GUSTI ALLAH yang mengadakannya. Alam beserta isinya memberikan kehidupan dan melakukan keseimbangan dengan bahasanya, menyakiti alam hanya menimbun petaka di kemudian hari. Semoga pemimpin yang baik itu mau belajar, belajar dari keteguhan dan kekuatan kawulonya, sehingga akan memaknai Bencana Gempa Bencana Pemimpin.

Go Back

Comment