Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Kemuliaan Hati Para Relawan

October 14, 2009

REKIBLIK ETEKEWER XVIII – KEMULIAAN HATI PARA RELAWAN

Kata relawan mengandung makna suatu perbuatan mulia yang dilakukan secara suka rela, tulus dan ikhlas, menyiratkan sebuah kemuliaan hati para pelakunya. Relawan keberadaannya selalu ada di tengah-tengah situasi dan keadaan sulit yang sedang terjadi seperti musibah bencana alam, ketika di mana banyak orang sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan yang bersifat segera. Sekelumit kecil tulisan Kemuliaan Hati Para Relawan ini sebagai salah satu bentuk apresiasi dan rasa terimakasih yang tiada terhingga kepada seluruh para relawan bencana alam.

Ngger.. coba kamu simak baik-baik, Gusti Allah ingin menyampaikan pesan apa pada manusia di balik kejadian musibah bencana alam yang tengah melanda Rekiblik Etekewer. Apa ya Mbah... mau mengingatkan manusia mungkin atau mau menghukum manusia mungkin Mbah... Kamu ini bagaimana tho Ngger, wong dianugrahi Gusti Allah dengan suoro, cipto, roso lan urip (suara, cipta, rasa dan hidup) mbok ya digunakan dengan baik, nggak asal njeplak gitu... He..he..he.. Simbah marah..Simbah marah... marah nich yee... he..he..he.. Lho lhak malah cengengesan... malah ngece (ngeledek) Simbah...

Kamu jangan salah Ngger, Gusti Allah tidak pernah menghukum sebelum tiba waktunya ”masa penghukuman manusia” nanti, kapan itu masanya tidak ada satu manusiapun yang tahu waktunya, sebab itu adalah bagian dari rahasia Gusti Allah. Sekarang ini yang ada manusia menghukum dirinya sendiri, manusia yang satu menghukum manusia yang lain, bukan Gusti Allah. Ingat itu Ngger, jangan salah dan dibolak-balik, sukanya kok membolak-balik ketetapan, ini salah satu penyakit kebanyakan manusia yang paling menahun... yang tidak penting dianggap sangat penting, yang sangat penting malah disepelekan dan dianggap tidak ada.

Gusti Allah menganugrahi satu bahasa yang sama pada seluruh manusia, disadari atau tidak disadari, tidak peduli apa warna kulitnya, bagaimana bentuk rambutnya, dari mana asalnya dan sebagainya. Sejak dilahirkan semua manusia dianugrahi satu bahasa, yang akhir-akhir ini semakin tumpul bahkan banyak yang cenderung sudah mati alias bebal, yaitu hati. Bahasa mulut boleh saling berbeda satu dengan lainnya, apalagi bahasa pikiran yang cenderung liar dalam pengartian masing-masing, tapi bahasa hati tetap sama, sebab Gusti Allah yang menggerakkannya. Tidak heran Ngger ketika terjadi sebuah bencana alam misalnya, banyak orang-orang yang masih memegang hatinya turun tangan membantu, tidak peduli dari berbagai latar belakang apapun.

Memahami bahasa hati itu khan susah Mbah... bagaimana kita bisa tahu?... Pertanyaanmu itu sebagai salah satu bukti bahasa pikiran yang kamu pakai, jelas kamu akan susah memahami lha bahasa hati mau kamu cerna dengan bahasa pikiran ya nggak konek gitu lho... nnyyiiaaakkk...Simbah ngabg (kaya abg). Mudahnya begini untuk memahami, ketika pertama kali kamu melihat dan mendengar tentang musibah bencana alam, apa yang terjadi di dirimu... ya refleks rasa kasihan dan menyebut nama Gusti Allah tho Mbah. He...he...he... berarti kamu masih normal, nach itu bukti bahasa hatimu yang bekerja. Bahasa hati selalu refleks yang paling awal dalam berkata-kata, selanjutnya akan diteruskan oleh bahasa pikiran, gampang tho?... Bahasa hati tidak ada perdebatan teori Ngger, sebab bahasa tersebut adalah bahasa adanya yang Amin, beda dengan bahasa pikiran, bahasa tubuh dan sebagainya, semua itu ada teori yang diperdebatkan.

Jika bahasa hati sudah bekerja, sering terjadi seseorang akan menyingkirkan kepentingan dirinya sendiri, contohnya seperti yang kamu lihat di televisi itu, para tentara dengan pakaian loreng-loreng hijaunya yang gagah, menolong korban di bawah reruntuhan bangunan, ruang yang sempit dan rawan tidak lagi dipikirkan, tujuannya cuma satu agar dapat menyelamatkan korban, padahal diri tentara itupun terancam keselamatannya oleh rapuhnya reruntuhan bangunan. Demikian juga petugas-petugas rescue lainnya. Mereka itu contoh orang-orang yang masih memegang bahasa hatinya Ngger, sehingga sanggup melakukan perbuatan-perbuatan yang mulia dan berbahaya seperti itu.

Demikian juga untuk para relawan yang bertugas di bidang kesehatan, relawan yang bertugas menghibur anak-anak untuk menghilangkan trauma pasca gempa agar tidak menjadi harapan yang terampas begitu saja, dan relawan-relawan yang bergerak dibidangnya masing-masing dengan satu tujuan yaitu mencoba bersama-sama membantu meringankan beban sesuai dengan keahlian masing-masing. Mereka rela meninggalkan kenyaman hidup sehari-hari, meninggalkan kasur empuk, fasilitas lengkap dan sebagainya, tinggal di tenda-tenda yang dijadikan posko, bersatu dengan masyarakat yang tertimpa musibah dengan fasilitas seadanya. Mereka bekerja dan berbuat tanpa kenal lelah, membantu dan membantu sebagai prioritas diri mereka.

Para reporter yang membantu membuka dengan mata penglihatan kamera mereka agar masyarakat di tempat lain dapat melihat. Selain sebagai tuntutan profesi mereka, apa yang mereka lakukan merupakan suatu bentuk tindakan relawan, terbukti dengan bersedia masuk kepelosok-pelosok terpencil yang belum tersentuh agar dapat terlihat keadaannya. Para penggemar hobi off road yang membantu membuka dan merintis jalan akses yang terputus dengan kendaraan-kendaraan segala medan mereka, membantu menyalurkan bantuan yang bersifat darurat. 

Gusti Allah ingin hati manusia-manusia yang sudah membatu dan bebal menjadi cair dan hidup kembali. Hati adalah bahasa universal tidak terbatasi dimensi dan sekat-sekat sempit. Gusti Allah ingin menjadikan sosok-sosok relawan itu sebagai contoh bagi manusia-manusia yang lain, yang hanya memikirkan diri mereka sendiri, kekuasaan, kepentingan mereka dan kelompoknya sendiri-sendiri. Seharusnya para petinggi, pejabat dan penguasa di negri ini malu pada relawan-relawan tersebut. Itu kalau masih punya rasa malu lho ngger, jangan-jangan sudah terjadi hilangnya budaya malu, yo mbuhh... Ngger.

Di tengah duka para korban dan susah payah para relawan bencana, semoga tidak terjadi perbuatan-perbuatan rendah melakukan penyelewengan bantuan para korban bencana, semoga tidak terjadi korupsi dana-dana bantuan, semoga tidak terjadi tindakan-tindakan yang lebih rendah dari binatang tersebut. Sebab jika itu dilakukan yang tersakiti bukan hanya para korban, relawan maupun masyarakat lain yang membantu, Gusti Allah sendiri akan merasa tersakiti Ngger.. Peran para reporter dan media untuk terus menerus menyoroti sangat penting peranannya di sini.

Kita sebagai masyarakat yang tidak dapat bersama membantu di lokasi bencana sudah selayaknya angkat topi dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya serta ungkapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh para relawan bencana alam ini. Kemuliaan Hati Para Relawan ini hendaknya menjadi contoh bagi siapapun juga, agar negri ini bangkit menjadi sejahtera bagi seluruh tumpah darah negri. Relawan yang selalu terlupakan ketika penanganan bencana itu telah usai, semoga tidak lagi terjadi, agar tidak disebut sebagai bangsa yang tidak tahu berterimakasih. Bangkit dan lakukan Sebuah Perlawanan pada keterpurukan akibat bencana alam yang lalu.

Duka itu belum usai, tetap ulurkan tangan membantu semua saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, mari kita galang bantuan bentuk apapun untuk membantu mereka. Duka mereka adalah duka kita, tangis mereka adalah tangis kita juga, jika memang kita masih sebagai manusia.... Kemuliaan hati Para Relawan semoga menjadi pecut bagi hati kita sekalian...

Meski secuil ungkapan terimakasih bagi para relawan itu sudah dianggap cukup, sebab mereka adalah sosok-sosok berhati mulia tanpa pamrih, syukur-syukur lebih dari itu. Relawan juga manusia... hargai mereka, apresiasi mereka jika kita ingin disebut manusia yang beradab. Terimakasih para tentara (meski selalu dikerdilkan oleh pengkhianat-pengkhianat Ibu Pertiwi), terimakasih para relawan semua (apapun latarbelakang keahlianmu & dari manapun asalmu), kalian adalah contoh kemuliaan hati, baktimu kelak pasti khan berbuah, tiba saatnya akan kau panen, Gusti Allah tersenyum padamu, Amin....

Go Back

Comment