Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Listrik Byarpet Ditengah Sumber Energi

October 22, 2009

REKIBLIK ETEKEWER XIX – LISTRIK BYARPET DITENGAH SUMBER ENERGI

Letak geografis yang menguntungkan membuat negri ini berlimpah berbagai sumberdaya alam, termasuk sumberdaya energi. Kekayaan ini hanya akan sia-sia jika tidak digali, dikelola secara cerdas dan bijak. Tidak mustahil justru akan menimbulkan ironi krisis energi di tengah sumberdaya yang melimpah, contohnya listrik. Listrik byarpet di tengah sumber energi yang berlimpah  merupakan salah satu bentuk gambaran ketidakcerdasan dan salah urus, tidak ubahnya bagai tikus mati kelaparan di tengah lumbung padi.

Ji ro lu, ji ro lu... (satu dua tiga – jawa) demikian riuh rendahnya suara yang terdengar secara kompak. Pagi itu segenap kawulo Perdikan Guyubrukun kerja bakti di bendungan sungai yang menghidupi tanah mereka selama ini. Para pemuda, orang-orang tua dan tidak ketinggalan para remaja putri dan ibu-ibu turut sibuk pada kegiatan tersebut.

Kawulo perdikan melakukan servis rutin berkala turbin mini pembangkit listrik tenaga air sebagai sumber listrik perdikan mereka. Masing-masing generasi menempatkan diri untuk perannya secara harmoni, para pemuda mengurusi turbin yang diservis, kaum bapak membenahi dan membersihkan saluran air yang mengarah ke turbin, para remaja putri dan kaum ibu sibuk menyiapkan makanan dan minuman, anak-anak bermain air sambil mencari ikan.

Simbah tampak menyatu bersama para pemuda, maklum beliau tinggal satu-satunya orang yang dulunya menggawangi pembuatan pembangkit listrik tenaga air tersebut, temannya yang lain sudah berpulang mendahului. Pelan-pelan ngger... sebelah kiri agak dinaikkan sedikit, terus dikit lagi...oooppss (simbah memberi aba-aba), ayo sekarang pelan-pelan digeser keluar, ngger kamu sambil lihat posisi as nya supaya tidak miring, nggih mbah... Stop dulu mbah, posisi kerekan (takel) saya sesuaikan dulu biar tidak miring dan bebannya jadi imbang, seru salah satu pemuda. Stop dulu ngger... seru simbah pada para pemuda, takelnya biar disesuaikan dulu posisinya, stop...stop...stop... seru para pemuda meneruskan aba-aba simbah. Posisi takel sudah sesuai mbah...sudah bisa dimulai, ayo ngger sekarang dimulai geser keluar pelan-pelan, jangan lupa sambil diamati as nya agar tidak bengkok.

Setelah seharian servis berkala serta memasang kembali turbin mini sumber listrik perdikan selesai, dan telah dites segala sesuatunya normal dan berfungsi dg baik. Kalau dihitung-hitung, pembangkit listrik kita itu sudah berumur berapa lama ya mbah, tanya seorang pemuda. Wach yo wes suwi ngger, kalau tidak salah waktu itu simbah masih berumur 20 tahun, jaman isih ngganteng canda simbah (jaman masih ngganteng dulu), nnyyiiiaaakkkk... kompak pemuda menimpali candaan simbah, ho o... jaman Simbah masih suka godain cewek-cewek tho.... he...he…he.. ya nggak tho ngger, lha wong simbah itu dulu pendiam kok, nnnyyyiiiaaaakkkk….

Kalau semua dirawat dan diperhatikan dengan baik ya umur pakainya akan panjang ngger, yang penting menjaga dan merawatnya sepenuh hati, khan untuk kehidupan kawulo semua di sini. Memang sudah waktunya untuk dimusiumkan dan diganti dengan yang baru, lha itu tugas kamu-kamu semua tho ngger… Simbah dan para pendahulu sudah meletakkan dasar awal, selanjutnya tugas kamu sekalian yang menentukan mau diapakan. Makanya angger Budi, Tyo dan Wicak kamu yang sungguh-sungguh sekolah di tehniknya, kembangkan akal pikiranmu untuk menemukan hal-hal baru yang bermanfaat  untuk energi listrik. Sumberdaya alam yang kaya itu dimanfaatkan dan digali dengan bijak, sehingga segenap kawulo merasakan langsung manfaatnya.

Bagaimana tidak lucu, negri kaya sumberdaya alam, tapi dibiarkan begitu saja, untuk kebutuhan listrik hanya menggantungkan dari pembangkit berbahan baker fosil dan batubara saja, lha itu matahari, air, angin, panas bumi dan sebagainya untuk apa?... Lha itu namanya dagelan ketek ogleng mbah, sahut paimin…. Ha..ha...ha... serempak para pemuda tertawa mendengarnya.

Iya ya mbah, kalau memimpin dan mengelola tidak dengan kesungguhan hati, tidak melandaskan diri pada bhakti untuk masyarakatnya jadinya ironis ya mbah, alih-alih masalah anggaran. Bener ngger, sebuah ironi listrik byarpet di tengah sumber energi sama saja tikus mati kelaparan di lumbung beras. Lho di negri itu khan banyak orang pinter tho mbah, apa bisanya cuma ngunteti (nilap) dana proyek?... ha...ha...ha... kembali suara tawa pemuda mendengar ucapan tersebut. Yo mungkin wae ngger... tapi yang jelas tidak adanya komitmen yang kuat para penyelenggara, contohnya pernah ada program diversifikasi energi dengan biodiesel, biofuel yo mung anget-angetan, sekarang hilang tidak kedengaran bagai ditiup kentutnya si bedjo ha...ha...ha... simbah ndagel... simbah ndagel....

Dibutuhkan sebuah komitmen yang jelas dan tegas mengenai energi, kemudian ditindaklanjuti secara kesinambungan melalui kebijakan dan pelaksanaan. Kalau itu dilakukan, nggak lama kok ngger masalah energi itu terselesaikan. Berdayakan Lembaga Riset dan Tehnologi yang dimiliki negri, beri peran dan peluang yang baik bagi anak-anak negri mengembangkan potensinya, dukung secara berkesinambungan dan di fasilitasi, lha wong di sana banyak para pemuda yang pikirannya hebat kok, sayangnya tidak pernah diperhatikan dan diurus. He...he...he... yang diurusi cuma rebutan kursi dan kekuasaan mbah plus harta tilepan (korupsi) ha...ha...ha...

Mental para pelaksana di lapangan juga harus dibenahi, sudah tahu krisis tetapi malah kongkalikong dengan industri tertentu ataupun pengguna-pengguna lain yang melebihi kuota ketentuan, ini sama saja mengkrisiskan secara sistematis demi keuntungan pribadi oknum-oknum tertentu. Memang penyakit mental di negri paling susah diobati, terutama para penyelenggara dan pelaksana pemerintahan. Proyek pembangkit listrik untuk rakyat yang menelan dana tidak sedikit kualitasnya dipertanyakan. Ujung-ujungnya kinerja pembangkit jadi tidak optimal akibat dikorupsi, rakyat lagi yang harus menanggung listrik byarpet, pelaku usaha rugi, rumah tangga rugi, anak-anak sekolah tidak bisa belajar dengan nyaman dan sebagainya. Sesulit apapun keadaan, yang penting pantang menyerah, lakukan semua demi rakyat, sebagai bentuk sikap yang terpuji seorang pemimpin.

Dibutuhkan sebuah komitment kuat, jelas dan tegas dari penyelenggara negara dan harus ditindaklanjuti dari kebijakan yang berkesinambungan sampai pada pelaksanaan, dan pengawasan ketat. Kalau perlu yang korup langsung dipecat dan sita kekayaannya, biar memberikan efek jera. Persiapkan tehnologi tepat guna dan sederhana untuk pembangkit listrik, mulai dari energi air, angin, panas bumi, matahari dan sebagainya. Kemudian terapkan dan bantu pengadaannya sesuai karakteristik daerah berdasarkan letak geografis, daerah yang sumber cahayanya besar ya terapkan pembangkit tenaga surya, daerah yang anginnya banyak dan besar ya terapkan sistem pembangkit tenaga angin, demikian juga seterusnya yang lain. Lakukan upaya alih tehnologi secara berkesinambungan, bangkitkan kemandirian masyarakatnya untuk pengelolaan kedepan selanjutnya. Audit ulang semua pembangkit energi dan proyek-proyek pembangkit listrik, tindak tegas jika terjadi penyelewengan. Niscaya Listrik Byarpet Di tengah Sumber Energi tidak akan terjadi.  

Go Back

Pada UUD 45 dinyatakan bahwa seluruh kekayaan alam digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Tetapi hingga sekarang, belum seluruh rakyat bisa sekedar menikmati terangnya lampu listrik, kalaupun ada sering byar pet. Rakyat masih antri minyak tanah, antri minyak goreng, padahal negara kita kaya akan penghasil minyak bumi, gas dan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia bersama dengan Malaysia.

Inilah keprihatinan bagi bangsa ini, ataukah sekarang telah terjadi perubahan definisi "rakyat" ?... dimana tdk lg seperti yg ada dlm definisi UUD 1945.

Hai, salam kenal, artikel anda ada di

http://energi.infogue.com/listrik_byarpet_ditengah_sumber_energi

ayo gabung bersama kami dan promosikan artikel anda ke semua pembaca. Terimakasih ^_^

InfoGue, thanks utk apresiasinya..



Comment