Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Memaknai Secara Empan Papan

August 1, 2009

REKIBLIK ETEKEWER IX - MEMAKNAI SECARA EMPAN PAPAN

Ndengaren kok dho rame-rame, arep dho nengendhi le (kok pada rame pada mau kemana nak)... simbah bertanya pada anak-anak kecil perdikan yang pagi hari itu terlihat berbondong-bondong, badhe teng kali padhos ulam mbah (mau kesungai cari ikan mbah)... sahut salah satu anak-anak itu. Yo dho seng ati-ati yo, ojo dolanan nenggon seng jero, mbebayani, seng empan papan yo le (ya hati-hati jangan main di tempat yang dalam berbahaya, yang pada tempatnya ya le..)... nggih mbah (ya mbah)... serempak anak-anak itu menyahut. Sepintas simbah terdiam seakan teringat masa kecilnya dulu juga sering mencari ikan bersama-sama di sungai yang membelah perdikan, sungai yang menghidupi perdikan sampai sekarang.

Sesaat simbah tampak berkemas, memasukkan tembakau dan kelengkapannya ke dalam slepen (wadah tembakau yang terbuat dari anyaman rumput sebesar dompet) dan mengambil caping teman setia simbah. Badhe teng pundhi mbah (mau kemana mbah) tanya cucunya yang kebetulan berada di ruangan itu, arep ndeloke bocah-bocah seng dho nggolek iwak neng kali mburi kono, kuatir ndak dho suloyo le dho dolanan (mau melihat anak-anak yang pada mencari ikan di sungai belakang itu, kuatir pada ceroboh kalau sudah bermain).

Di atas sebuah batu besar yang agak ceper simbah duduk dengan santai, sambil melihat polah tingkah anak-anak tangan melinting tembakau favoritnya. Tahu dilihati oleh simbah anak-anak justru semakin senang dan bersemangat, mereka merasa ada yang menjaga sehingga merasa aman. Simbah memang juga terkenal dekat dengan anak-anak kecil di perdikan, sehingga sudah dianggap seperti simbah mereka sendiri oleh anak-anak.

Horee...aku dapat satu teriak salah satu anak sambil memperlihatkan ikannya, melihat temannya ada yang dapat seakan memacu anak-anak lainnya untuk semakin bersemangat mencari bagaikan lomba tanpa panitia. Dasar anak-anak bermain sambil bercanda, gemuruh tawa dan polah tingkah terkadang lucu. Kadang ada yang usil, bukannya ikut mencari ikan tetapi justru menarik celana temannya sampai hampir lepas. Gelak tawa dan canda sangat riuh pagi itu.

Simbah yang memperhatikan tampak sesekali tertawa menyaksikan. Le di sebelah batu yang agak ngedung itu lho le, coba kamu pasangi perangkapnya, yang mana mbah...itu lho yang dipojokan, deket belokan itu ya mbah...iya sahut simbah membantu anak-anak agar dapat ikan. Maklum simbah sangat pengalaman dalam urusan ini. Tidak begitu lama berselang salah satu anak berteriak, dapat mbah...aku dapat mbah... terlihat senang mendapatkan hasil sambil menunjukkannya ke simbah, gede ya mbah.... sahut anak itu bangga. Pinter koe le... ayo meneh... seakan menyemangati anak-anak, horee... aku juga dapat mbah... yo pinter...pinter... ayo cari lagi, cari di air yang agak tenang di balik batu itu... biasanya ikannya pada di situ le... lagi-lagi simbah membantu anak-anak dengan pengalamannya...

Anak-anak perdikan dengan dunianya yang dekat dan bersahabat dengan alam di sekitar mereka, menyatu dengan tanah yang menghidupi mereka, sebuah potret yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan anak-anak di perkotaan. Iwak’e dileboke kepis le, selehke neng banyu neng ojo nganti kelelep ndak iwak’e ucul (ikannya dimasukkan wadah le, taruh di air tapi jangan sampai tenggelam nanti ikannya lepas)... beres mbahhhh.... sahut anak-anak gembira sambil tetap dengan aktifitas mereka. Ada yang bertugas menggiring, ada yang bertugas menangkap, ada yang bertugas jebar-jebur agar ikannya pindah ke arah yang diinginkan, semu terlihat kompak dan empan papan (sesuai tempat dan fungsinya). tidak ada yang merasa lebih berjasa dibandingkan yang lain, jika ada yang dapat yang lain seakan mengamini dalam kegembiraan, kegembiraan milik mereka bersama betapa sangat bertolak belakang perilaku anak-anak tersebut dengan segelintir oknum pejabat yang sering merasa diri paling dan lebih berjasa dibandingkan lainnya. Seharusnya malu jika berkaca pada anak-anak perdikan itu, tapi yang namanya malu sudah tidak ada lagi dalam kamus kehidupan bagi segelintir pejabat, sebab telah digadaikan bersama harga diri.

Serius amat tho mbah...mendadak bedjo sudah duduk di samping simbah... ooo kamu tho djo, itu lho simbah lagi memperhatikan anak-anak yang nyari ikan. Coba kamu lihat djo, disitu ada pelajaran yang bagus bisa diambil dari polah tingkah anak-anak kita itu. Sesaat bedjo memperhatikan dengan seksama... iya ya mbah terlihat kompak seperti sebuah tim, masing-masing menempatkan dirinya sesuai fungsi meski dalam suasana bermain ya mbah... bener djo khan serasi tho?... (bedjo salah satu pemuda perdikan yang ngangsu ilmu di kota alias mahasiswa). Jika kamu perhatikan lagi dengan teliti  bersama pojok cakruk pemikiran yang kamu miliki, ada yang lebih lagi dari sekedar kompak djo, coba perhatikan lagi... tampak bedjo memperhatikan sambil mengernyitkan dahi tanda berpikir keras, apa ya yang kira-kira terlihat oleh simbah tapi tidak terlihat olehnya. Tampaknya bedjo harus menyerah dan mengakui kejelian simbah dan diwujudkan dalam pertanyaan, apa ya mbah kok nggak ada?...

He...he...he... berarti kamu perlu mengasah kepekaan dan kejelianmu lagi dalam mengamati suatu keadaan djo. Coba lihat, ada yang menggiring, ada yang menangkap, ada yang membuat gaduh agar ikan pindah ke arah yang diinginkan dan sebaginya. Coba lihat mereka dalam menempatkan diri dan waktu melakukan, seperti nyambung satu sama lain dan tepat waktunya. Apa yang dilakukan sesuai dengan waktu dan tempatnya, itu yang biasa disebut “empan papan” djo... wach iya mbah... bener...bener... bedjo terlihat senang sambil meangkupkan telapak tangan seperti layaknya orang menyembah... ngaku kalah mbah... lah kamu itu ngapain tho kok kayak orang nyembah gitu, simbah protes...lho itu salah satu bentuk wujud pengakuanku mbah... helehh... kaya apa aja kamu ini, simbah protes lagi.... he...he...he... bedjo malah tertawa melihat sikap simbah.

Simbah punya cerita yang berkaitan dengan empan papan itu djo, wach asyik donk mbah, bagaimana ceritanya mbah, jadi penasaran untuk mempelajarinya mbah... Konon dulu ada sebuah padepokan, tempat orang-orang menimba ilmu, baik tentang ilmu kanuragan (bela diri), ilmu pengobatan maupun ilmu-ilmu tentang pengetahuan hakekat dan makna kehidupan. Dipimpin oleh seorang pendhito atau guru yang wawasan dan pengetahuannya bagai samudra, saking dalam dan luasnya. Inti cerita itu adalah bagaimana memaknai secara empan papan. Memaknai secara empan papan merupakan salah satu wujud belajar menjadi beradab dalam berperilaku dan berpemikiran.

Suatu saat salah seorang pemuda yang menjadi muridnya mendatangi guru tersebut dan bertanya, “Guru, mengapa orang seperti guru mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan guna menunjukkan status juga untuk banyak tujuan lain, saya kok jadi tidak mengerti”

Sambil tersenyum guru itu melepaskan salah satu cincin yang dikenakan dan berkata, “Akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambil tusuk konde ini dan bawa ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?.”

Melihat tusuk konde sang guru yang kotor, murid tadi merasa ragu, “Satu keping emas?. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu guru.” “Mengapa tidak dicoba dulu, siapa tahu kamu berhasil.” Murid itu akhirnya bergegas ke pasar, menawarkan tusuk konde itu ke para pedagang yang ada di pasar, mulai dari pedagang kain, sayur, penjual daging dan ikan, dan yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak saja, tentu saja murid itu tak berani menjualnya. Akhirnya ia kembali ke padepokan dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak.” Sambil tetap tersenyum arif sang guru berkata kamu harus mulai belajar memaknai secara empan papan pada bawaanmu itu,  “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini,  perlihatkan kepada pemiliknya, jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”

Pergilah murid itu ke toko emas yang dimaksud dan menawarkan tusuk konde yang dibawanya. Betapa kaget murid itu mendengar harga yang ditawarkan oleh pemilik toko emas tersebut. Bergegas murid tersebut untuk menemui gurunya dan berkata “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari tusuk konde ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas”. Rupanya nilai tusuk konde ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

Sambil tersenyum sang guru berujar kepada muridnya, segala sesuatu jika  empan papan, dilakukan dengan tepat sesuai tempat maupun waktu akan menunjukkan nilai sebenarnya. Seseorang tak bisa dinilai hanya dari pakaiannya, cuma para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar seperti tadi yang menilai demikian. Namun tidak bagi pedagang emas. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, tidak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas.

Bedjo terlihat sangat serius mendengarkan sambil sesekali  mengangguk tanda memahami yang disampaikan simbah. Semua jika dilakukan secara empan papan akan memberikan nilai yang sebenarnya. Berpikir, berkata, berbuat dan bertindak serta menempatkan sesuatu sesuai tempatnya, dengan demikian memaknainya secara benar. Menilai tidak asal menilai namun memahami kedalaman yang dinilai, tidak hanya dari kulit luarnya saja. Khan sering tho djo apa yang terlihat tidak mencerminkan yang sebenarnya, iya tho... nggih leres mbah (iya benar mbah). Banyak tho terjadi bahwa tampilan luar itu menipu... lha wong jaman sekarang ini banyak yang berperilaku seperti aktor atau aktris jee... Kebiasaan menilai hanya dengan melihat dari kulit luarnya saja akan menyebabkan seringkali terjadi kekeliruan, disangka emas ternyata loyang, dianggap loyang ternyata emas.

Opo le... mendadak simbah menyahut, ikannya dah banyak mbah, kepisnya nggak cukup lagi... lha kalau gitu dipilihi aja le, yang besar-besar saja dibawa, yang kecil-kecil kembalikan kesungai lagi, biar menjadi besar dan berkembang lagi, jadi sungainya tetap ada ikannya le, khan pada seneng tho kalau sungainya banyak ikannya. Yo djo bantuin anak-anak itu memilih ikan yang akan dibawa pulang. Hari ini ada dua pelajaran yang simbah tularkan pada anak-anak dan bedjo. Berperilaku dan berpikir bijak serta kearifan tradisional menjaga kelestarian dan keharmonisan alam, merupakan Memaknai Secara Empan Papan, sebagai bagian dari yang dinamakan belajar menjadi beradab, beradab di sini tentunya dalam arti yang lebih luas.

 

Go Back

Atas nama profesionalisme, sekarang orang menilai seseorang dari penampilan bukan dari hasil karya, atau dari skill dan knowledge.
Padahal penampilan seringnya menipu mata, karena skill dan knowledge tidak bisa dilihat dari penampilan seseorang.

profesionalitas, skill dan knowledge menempati kulit terluar dalam peradaban, kultur dan budaya manusia. mungkin ini memang rotasi waktu bahwa semakin banyak terjadi pendangkalan-pendangkalan makna peradaban manusia, shg terjadilah apa yg disebut tidak empan papan.

kenapah ajah guah tadi maen pb kaga bisa



Comment