Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Negara Halusinasi

November 12, 2009

REKIBLIK ETEKEWER XXII – NEGARA HALUSINASI

Sebuah negara pasti selalu memiliki landasan dan tujuan jelas yang tercantum dalam setiap konstitusi dasar dan tujuan negara tersebut. Cita-cita sebuah negara selalu bersumbu pada kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran bagi segenap rakyat warga negaranya. Semua cita-cita itu tercantum secara nyata dan jelas. Ketika semua yang tercantum tersebut tidak diwujudkan secara nyata dan kesadaran para penyelenggara negara tidak berada pada tingkat yang semestinya, maka negara tersebut hanya akan menjelma menjadi sebuah Negara Halusinasi.

Ngger, opo Rekiblik Etekewer lagi terserang wabah penyakit ???... Mbothen niku Mbah (tidak tuch Mbah)... dilanda bencana alam nggih, nanging mbothen wabah penyakit (dilanda bencana alam iya, tapi bukan wabah penyakit). Masa iya tho Ngger, lha kalau menurut pengamatan Simbah kok sedang terjangkit wabah penyakit besar-besaran, dan penyakitnya cuma menyerang orang gedean saja, ya kalau masalah bencana alam itu Simbah juga sudah paham....

Penyakit apa sich Mbah... wach Simbah ini bikin bingung saja. Lho kalau begini saja kamu sudah bingung lha apa lagi kawulo yang di Rekiblik Etekewer jauh lebih bingung Ngger. Itu lho penyakit ski..ski..ski apa itu istilahnya para ahli jiwa itu lho...ooo... skizofrenia tho yang Simbah maksud, ya ...ya... penyakit itu yang Simbah maksud Ngger, skizofrenia. Lha apa Rekiblik Etekewer sedang terlanda wabah skizofrenia itu....

Kalau setahu saya kawulo Rekiblik Etekewer itu sedang dilanda susah Mbah, susah dalam penghidupan karena faktor ekonomi, susah keadilan karena hukumnya dicederai, susah percaya karena perilaku para petingginya, pokoknya serba susah lah Mbah, jadi yang diidap ya penyakit susah karena dibuat susah oleh perilaku dan kebijakan para petingginya. Itu yang kawulo lho Mbah, lha kalau petingginya enak-enak saja tuch ?... buktinya bergelimnang kuasa dan materi, hidup dan gaya keseharian yang serba wah dengan fasilitas yang wah juga. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin benar juga yang Simbah maksud, buktinya terjadi kontradiksi kehidupan antara rakyat dan petingginya. Bisa jadi sedang terlanda wabah penyakit skizofrenia yang bersifat eksklusif serangannya hanya kepada para petingginya saja.

Kalau para petingginya sudah pada terserang wabah skizofrenia, negara bisa berubah menjadi negara halusinasi dan rakyatnya hidup dalam cita-cita halusinasi Ngger. Negara Halusinasi, dimana terjadi persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera kesadaran dari para penyelenggaranya, terhadap landasan dasar tujuan negara yang sejahtera, makmur dan berkeadilan bagi seluruh rakyat. Para petinggi yang sibuk beradegan sinetron dengan dialog-dialog pembenaran. Para petinggi tersebut yang notabene dipercaya oleh rakyat untuk menjadi bagian dalam penyelenggaraan negara telah mengalami delusi pada persepsi arti cita-cita negara yang tercantum dalam konstitusi, sehingga tidak lagi dimaknai seperti adanya cita-cita tersebut.

Cita-cita suatu negara yang tercantum dalam konstitusi negara tersebut merupakan sesuatu yang harus dan wajib diwujudnyatakan oleh siapapun yang memimpin dan menjadi penyelenggara negara tersebut. Oleh sebab itu untuk memudahkan terwujudnya cita-cita tersebut dibentuklah berbagai lembaga dengan segala perangkatnya untuk membantu. Seluruh potensi yang ada dikerahkan, tentunya dengan biaya yang tidak sedikit, jangan jadikan semua itu menjadi halusinasi.

Rakyat yang selama ini yakin dan memegang teguh cita-cita negara yang tercantum dalam konstitusi harus dihadapkan pada situasi centang prenang penyelenggaraan negara, pada akhirnya cita-cita itu hanya sekedar bayang-bayang saja di mata rakyat. Bayang-bayang yang tidak kunjung berubah nyata di tengah himpitan berbagai kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Keadilan yang tidak jelas dan tidak pasti, sistem hukum dan peradilan yang tercabik-cabik diciderai oleh para mafia keadilan yang memiliki uang dan kuasa, dengan perilaku bagai bedebah rendah dari sisi nilai-nilai sebagai manusia dan sebagainya. Semua itu membuat hidup dan kehidupan rakyat menjadi semakin tawar saja Ngger.

Oleh sebab itu Ngger, dalam memilih para petinggi pemerintahan jangan memilih orang pinter karena orang pinter biasanya minteri liyan (memanipulasi lainnya), tetapi pilihlah orang yang mengerti. Orang mengerti menempatkan hati nurani sebagai panduan dalam melangkah, sehingga setiap langkah yang diambil selalu bertumpu pada kemaslahatan dan kebaikan. Memang tidak dipungkiri, rata-rata orang mengerti tidak suka menampilkan dirinya. Hati-hati dengan orang yang suka menampilkan diri seolah-olah bisa dan mampu, orang seperti ini rumongso biso (merasa bisa) bukan biso rumongso (bisa merasa). Jadi tidak heran Ngger kalau banyak terjadi adegan jogetan topeng dari para petinggi yang ada.

Sudah semestinya para petinggi yang ada merenung dan menggali pojok cakruk pemikiran masing-masing secara bening, sebagai bentuk refleksi menjadi arti seperti apakah dirinya bagi rakyat. Kembali pada kendali konstitusi dan cita-cita negara yang tercantum di dalamnya. Bersihkan segala lini dari bentuk manipulasi kekuasaan dan mafia kepentingan. Evaluasi ulang para petinggi yang ada, apakah layak atau tidak. Tetapkan suatu kendali tegas dan jelas dan sebagainya. Pembenahan birokrasi dengan cara merevolusi birokrasi tersebut, agar akar penyakit yang sudah menahun dapat dicerabut habis. Tidak dipungkiri untuk semua itu dibutuhkan suatu keberanian dan ketegasan, terlepas dari semua itu hal ini merupakan keharusan demi rakyat bangsa ini. Jangan lagi mendikotomikan definisi rakyat yang mana, karena sudah jelas tercantum dalam konstitusi. Rakyat yang dimaksud adalah seluruh rakyat negara ini, jangan dipilah, jangan dikastakan ataupun digolongkan sebab itu hanya perbuatan para pengkhianat.

Semoga para petinggi bangsa ini diberi hati yang mengerti, yang memegang hati nurani sebagai kendali. Wong urip kui mung sak dhermo nglakoni ibarate mampir ngombe, ojo sok adigang adigung adiguno kakehan polah, ojo dumeh (orang hidup itu cuma sekedar menjalani ibarat mampir minum, jangan suka mesara mampu, merasa hebat, merasa kuasa dan bertindak sewenang-wenang, jangan mumpung). Semua itu kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Gusti Allah. Ingat Ngger, segala yang kita perbuat dalam kehidupan kita, buahnya akan dipanen oleh anak turun kita. Tanamlah kebaikan agar anak turun kita memanen kebaikan itu. Demikian juga cita-cita sebuah bangsa, tanamlah itu dengan baik, rawatlah dengan baik, nyatakan dalam kehidupan nyata, sebab itu merupakan harapan bagi segenap rakyat negara ini, adalah sangat bijak jika tidak menjadikan harapan itu menjadi sebuah halusinasi agar tidak menjadi Negara Halusinasi bagi rakyatnya sendiri.

 

Go Back

Wong urip iku ibarate mung mampir ngombe. Nah ini masalahnya, yang diombe itu apa ? air accu, racun arsenik, atau apa yang membuat orang jadi seperti lupa akan tujuan hidupnya.

Tergantung siapa orangnya, siapa peminumnya akan menentukan apa yg akan diminum utk menjadi orang seperti apa...



Comment