Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Parade Rimba Raya

October 6, 2010

REKIBLIK ETEKEWER XXXI – PARADE RIMBA RAYA

Apa itu Ngger kok sepertinya kacau balau nggak karuan, orang-orang bawa senjata pedang berseliweran bahkan ada yang bawa senjata api di jalanan umum dengan muka marah…tanya Simbah pada cucunya saat nonton berita di televisi. Biasalah itu Mbah…pola perilaku rimba yang mulai meruyak kembali, seolah-olah tidak ada tatanan umum sama sekali, lagi pada mau Parade Rimba Raya mungkin Mbah. Lho bukannya Rekiblik Etekewer itu terkenal dengan budayanya yang santun dan luhur Ngger…terbukti dari banyaknya peninggalan karya-karya budayanya di masa lalu….Oooo itu duluuu…duuuluuuu Mbah, lha sekarang ini malah justru sebaliknya jee…. Lho lha kok kamu yang marah tho Ngger…lha wong Simbah cuma nanya kok wwekekekekkk….Suasana akrab antara dua generasi berbeda yang selalu mewarnai setiap sore hari….

Silang sengkarut di berbagai sisi kehidupan berbangsa dan bernegara menunjukkan lemahnya kepemimpinan. Masyarakat yang semestinya mendapat hak hidup layak, hidup tenang dan kepastian tidak lagi mendapatkannya. Hukum yang diperjualbelikan oleh para mafia hokum dan peradilan, pajak yang ditilep oleh oknum-oknum pajak, kehidupan beragama untuk menyembah TUHAN diusik bahkan ada yang diobrak abrik karena perbedaan pemahaman, keberagaman yang diredusir maknanya untuk pembenaran pemaksaan kehendak kelompok tertentu, masyarakat miskin kehilangan hak hakiki seperti pendidikan murah, kesehatan murah (gratis???...untuk beberapa tempat iya, untuk tempat-tempat lain tak ubahnya mimpi) dan sebagainya. Semua itu tidak terlepas bagaimana pemimpin mampu mengelola titik-titik kritis tersebut, apakah berhasil atau gagal.

Keberhasilan mengelola titik kritis kehidupan berbangsa dan bernegara akan membuahkan ketenangan, kesejahteraan, kesatu paduan dalam keberagaman dan sebagainya, demikian juga sebaliknya bahwa kegagalan mengelola titik kritis tersebut akan membuahkan kekacauan dan silang sengkarut pranata-pranata yang ada, sehingga terkesan menjadi masyarakat yang tidak lagi memiliki budaya sebagai manusia yang beradab. Apakah masyarakat negri ini telah kehilangan budaya untuk tetap menjadi beradab ???...

Silang sengkarut di atas banyak terjadi dalam masyarakat perkotaan terutama mereka yang telah mapan secara ekonomi ataupun kekuasaan, justru lebih rentan daya tahannya terhadap suatu tekanan hidup. Berbeda dengan masyarakat pedesaan yang memang memiliki akar kerja keras, lebih mudah bersyukur  diantaranya terimplementasi dalam sikap nrimo (menerima-jawa) lebih memiliki daya tahan terhadap tekanan hidup jauh lebih besar.

Ada sebuah cerita yang memilukan hasil perjalanan seorang sahabat ke sebuah desa, di wilayah pegunungan Menoreh...”mengingatkan kembali tentang cerita berlatar belakang sejarah kerajaan Mataram, karya SH. Mintardja yang diberi judul Api di Bukit Menoreh dengan sosok Agung Sedayunya... hhmmm sjenak mengembara dunia masa lalu sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi...terpuaskan hasrat masa lalu”. Wilayah di mana terkadang terjadi perebutan antara kera/monyet dengan manusia untuk bahan pangan, siapakah yang mencuri dan dicuri???...tak ubahnya pembicaraan telur dan ayam, mana yang lebih dulu.

Dalam perjalanan itu mencoba memotret kehidupan dan menyoroti seorang nenek yang menderita sakit gondok dengan ukuran lebih besar dari lehernya sendiri (masih sulitkah garam yodium itu???...), dituangkan dalam tulisan berjudul Abon Kera & Kemiskinan. Nenek renta dengan tekun memilih dan memilah biji nangka (beton-jawa) yang dijemur untuk dijadikan bahan makanan. Sangat kontradiktif pada era sekarang dimana garam yodium sudah diproduksi secara besar-besaran dan tersebar serta mudah didapatkan, tapi masih saja ada wilayah-wilayah yang terlewatkan, kenapa hal ini bisa terjadi???...siapa yang harus bertanggungjawab???... Bagaimana peran pemimpin otoritas dimana wilayah itu ada ???.. bukankah mereka harus mengurusi rakyatnya????.... Lagi-lagi itu hanya menjadi bagian dari pertanyaan yang tak terjawab, masing-masing akan mengeluarkan argumentasi pembenaran diri (gawan bayen-jawa)... inilah bentuk lain yang dinamakan ”lebih rimba dari rimba yang sebenarnya”....

Bagai langit dengan bumi, demikian jauh beda budaya dan perilaku masyarakat perkotaan yang mapan ekonomi dan kekuasaannya dibandingkan dengan masyarakat pedesaan yang cenderung hidup di dalam serba kekurangan. Mereka yang hidup dalam gelimang kenikmatan segala kebutuhan terpenuhi cenderung memperlihatkan perilaku lebih rimba dari rimba yang sebenarnya ketika kehendak harus dipenuhi, bentuk-bentuk perilaku yang jauh disebut beradabpun tidak asing lagi dilakukan demi pencapaian tujuan dari kehendak-kehendak yang liar. Sementara masyarakat pedesaan yang notabene serba kekurangan, untuk makan saja kurang apalagi untuk kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya non primer, namun di balik itu semua mereka adalah sosok-sosok yang memiliki daya tahan terhadap tekanan yang sangat mengagumkan, terimplementasi dalam bentuk syukur dan pasar melalui sikap nrimo. Namun hal itu menunjukkan bahwa mereka jauh memiliki budaya dan peradaban sebagai manusia yang beradab. Pertanyaannya dimanakah peran pemimpin negri mereka selama ini????....di posisi manakah mereka menempatkan diri????..... hhhmmmm lagi-lagi tak ubahnya bagai menggelar Parade Rimba Raya. 

(....sebuah catatan keprihatinan...)

Go Back

Comment