Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Sekilas Bibit Bambu

January 28, 2009

 

SEKILAS TENTANG ASAL BIBIT BAMBU

 

Pada tulisan sebelumnya telah digambarkan sekilas tentang bambu serta bagaimana potensi besar yang dikandung sumberdaya bambu, maka pada tulisan berikut akan saya coba menyinggung sekilas tentang bibit bambu. 

Pembuatan bibit bambu secara garis besar digolongkan dalam tiga kategori berdasarkan asal bibit : Secara Generatif, Secara Vegetatif (stek) & Kultur Jaringan. Berikut uraian singkat secara sekilas mengenai pembuatan bibit tersebut.


1. Secara Generatif : 

Berasal dari biji bambu pada saat terjadinya pembungaan, hal ini  langka ditemukan, mengingat beberapa jenis bambu masa berbunganya membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Untuk jenis ini biasanya setelah berbunga akan mati. Ada beberapa jenis lain yang setiap tahun berbunga dan tidak mati. Pada jenis yang sekali berbunga kemudian mati untuk perbanyakan bibitnya lebih mudah secara vegetatif, sedangkan bambu yang setiap tahun berbunga perbanyakan bibitnya akan lebih mudah secara generatif. 

Keuntungan membuat bibit dengan cara generatif adalah kita akan mendapatkan umur tanaman mulai dari 0 tahun sampai dengan siklus matinya ( ada yang puluhan tahun bahkan ratusan tahun umurnya ) sehingga umur tanaman tersebut akan sangat panjang. Kelemahannya adalah resiko kematian pada saat pembuatan bibit sangat tinggi, untuk mencapai ukuran batang yang diinginkan sangat lama, berproduksi lebih lama, jarang ditemukan bambu yang berbunga.


2. Secara Vegetatif : 

Ada dua cara pembuatan bibit, dengan vegetatif batang dan vegetatif bonggol. Untuk skala besar pembuatan dengan cara vegetatif bonggol sangat menyulitkan dan resiko kematian cukup besar. Vegetatif batang merupakan cara yang sangat efisien dan efektif terutama untuk skala besar. Batang yang digunakan adalah batang yang dinilai sehat dan produktif perkembangannya agar didapatkan vegetatif yang baik. Lebih cepat berproduksi, batang untuk mencapai ukuran yang diinginkan lebih cepat di bandingkan dengan cara generatif. Ukuran batang umur 4 thn jauh lebih besar jika dibandingkan yang asal bibitnya dari generatif. Kelemahannya adalah umur tanaman melanjutkan umur indukan yang sudah ada, oleh sebab itu sejarah indukan perlu diperhatikan.


3. Secara Kultur Jaringan : 

Cara ini dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan untuk skala besar, bibit yang dihasilkan seragam. Cara ini membutuhkan tehnologi yang lebih baik dan biaya yang cukup tinggi, kelemahan dari bibit yang dihasilkan adalah akan memiliki sifat sama sehingga serangan penyakit akan lebih mudah menjangkiti secara serempak pada bibit, rentan terhadap serangan hama penyakit. Cara kultur jaringan ini masih sangat langka dilakukan. 

Demikian tulisan sekilas tentang bibit bambu, selanjutnya akan saya coba sedikit paparkan dalam bentuk praktis bagaimana teknis menyiapkan bibit, mulai dari penyiapan tempat pembibitan sampai dengan pembuatan bibitnya. Semoga rangkaian tulisan sekilas tentang bambu dalam rangka mengangkat potensi bambu ini dapat bermanfaat bagi siapa saja, terimakasih.

Go Back

Kepada Yth.
Mas Andrey
Mas salam kenal, saya nggak menduga kalau ketemu senior saya di blogg e Jenengan....
Hanya info untuk perbanyakan bambu dengan kultur sudah bisa dalam jumlah dan skala yang besar.
Mas Andrey bisa lihat pada website yang saya lampirkan....

Salam saya
Gogoh Sulaksono
Budidaya Kehutanan angkatan 95

Salam kenal juga mas Gogoh, senang sekali bertemu dengan adik kelas meski ketemunya di dunia maya. Maklum jarak angkatan kita yang berselisih jauh.
Syukurlah jika demikian, karena dulu kendala dari kultur jaringan adalah karena berbiaya tinggi, sehingga bagi masyarakat yang mengusahakannya tentu akan memberatkan. Dengan adanya seperti yang tempat Mas Gogoh lakukan tersebut semoga dapat membantu bagi siapa saja yang akan membudidayakan bambu, terutama mengenai penyediaan bibit skala besar dan seragam.

Berdasar informasi yang pernah saya baca dan saya dengar, pembiakan bibit menggunakan bonggol tingkat keberhasilannya lebih besar dibanding metode vegetatif lainnya. sebab dengan teknik ini, bibit ditanam bersama bonggol dan akarnya. kelemahan barangkali karena tidak bisa diproduksi secara massal mengingat rumpun bambu yang bisa diambil bonggolnya jumlahnya terbatas (rumpun maupun bonggol itu sendiri).
mohon tanggapan. terimakasih sebelumnya.

Sesi, benar spt yg anda katakan, utk tingkat keberhasilan tumbuh menggunakan bonggol lbh besar prosentasenya dibandingkan scr vegetatif, tapi dulu ketika msh menggunakan cara tradisional. Perkembangan tehnologi tlh menemukan cara dimana prosentase tumbuh pembiakan scr vegetatif tjd peningkatan yg sangat besar. Jika berbicara pembudidayaan scr luas, maka ada 2 pilihan yg relevan, pertama vegetatif, kedua kultur jaringan. Semua tergantung kepentingan terutama yg berkaitan produksi skala.
Kelemahan sistem bonggol selain tdk dpt menjawab kebutuhan skala besar juga akan berefek mengganggu rumpun indukan yg digunakan utk bahan pembiakan. Secara fisiologis akan mengalami strees shg berdampak pd penurunan kualitas anakan selanjutnya. Dibutuhkan waktu beberapa periode utk kembali normal spt sediakala. Demikian sedikit tanggapan dari sy, semoga ada manfaatnya.



Comment