Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Tragedi Bom JW Marriot dan Ritz Carlton

July 21, 2009

REKIBLIK ETEKEWER VI – ORDE KISRUH PARA CAKIL

Tulisan Tragedi Bom JW Marriot dan Ritz Carlton merupakan suatu bentuk rasa simpati dan keprihatinan atas musibah tragedi yang terjadi beberapa waktu lalu sekaligus sebagai bentuk simpati pada para korban tragedi bom JW Marriot & Ritz Carlton akibat ulah segelintir orang yang tidak bertanggung jawab terutama terhadap kemanusiaan. Tak ubahnya seperti perilaku cakil yang suka membuat kisruh suatu keadaan yang tentram, sehingga bisa diistilahkan sebagai Orde Kisruh Para Cakil.

Masyaallah le…. Ada apa tho mbah kok pagi-pagi sudah nyebut gitu. Lha apa kamu tidak tahu apa le di negri temanmu Rekiblik Etekewer sedang terjadi tragedi kemanusiaan gitu lho… Hari di mana saudara-saudara kita yang umat muslim menata hati untuk siap-siap sholat bersama di siang nanti telah diciderai dengan perbuatan biadab dari orang yang sudah mati mata hatinya. Hari yang mestinya dipenuhi dengan kekhusyukan malah dikotori dengan kegaduhan yang menyayat hati manusia (bagi manusia yang merasa masih memiliki hati)…. Masyaallah, oalah Gusti … berilah pengertian.

Simbah tidak habis pikir, peradaban semakin berkembang dan maju, manusia semakin terasah budi dan akal pikirannya, tentunya sikap perilaku dan perbuatan manusia itu semakin berkembang lebih beradab tho… bukan malah menjadi biadab. Perbuatan biadab yang dilakukan oleh manusia tersebut alangkah lebih rendahnya jika dibandingkan dengan binatang. Simbah jadi berpikir apa peradaban ini yang mundur atau manusianya yang gagap menyesuaikan peradaban ya le?... Terlepas apakah yang dijadikan dasar alasan dan pembenaran pemahamannya, yang pasti perbuatan ngebom yang dilakukan itu adalah sebuah tindakan biadab yang tidak berperikemanusiaan. Bagaimana tidak, lha wong yang jadi korban adalah orang-orang yang tidak tahu menahu dan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah. Manusia yang mengenal peradaban dalam menyelesaikan sebuah masalah tidak menimbulkan masalah baru yang notabene apalagi sampai menggunakan cara-cara tidak berperikemanusiaan. Seharusnya manusia-manusia perlu untuk belajar menjadi beradab lagi.

Lha iya lho mbah, baru saja ada tragedi yang memilukan eh malah ada elit yang mengeluarkan pernyataan yang semakin membuat gaduh hati para kawulo. Bagaimana tidak lho mbah, pernyataannya berkesan menuduh lawan politik yang katanya sich mbah berdasar pada data telik sandi dan berkaitan dengan hajatan besar beberapa waktu lalu yang telah usai, ini khan malah jadi dagelan topeng ra katokan tho mbah (dagelan topeng tidak bercelana). He…he…he… istilahmu itu lho le kok ya ada saja lho…

Terlepas data atau tetek bengeknya, mbok ya o dalam situasi tragedi yang memiris hati seperti saat ini mbok ya kalau mengeluarkan pernyataan itu yang hati-hati dan empan papan (sesuai sikond), agar bisa ngademke (menenangkan) kawulo, sambil mengajak segenap komponen untuk bersatu padu dalam memberantas perbuatan biadab sebagai musuh bersama negri, wujud dari bentuk keprihatinan bersama tentang apa yang baru dialami negri Rekiblik Etekewer. Kawulo menjadi adem dan turut bersama-sama bergandengan tangan membantu kerja para petugasnya demi negri, dengan apapun sebagai wujud sumbangsih pada negri, apakah informasi atau yang lainnya ya mbah.

Lha runyamnya lagi mbah, itu yang namanya juru contong (jubir) malah ikut-ikutan asal njeplak (asal ngomong), bagaimana tidak, pengalaman dalam hal tersebut tidak punya tapi sok tahu, jadinya ya itu mbah asal njeplak byaaarrr… mendingan temenku mbah punya istilah cerete wes umup, teh’e wes dadhi warunge garek dibuka byaakkk… (air di ceret sudah mendidih, tehnya sudah jadi, warungnya tinggal dibuka byaakkk…) setelah itu akan memberi manfaat pada banyak orang, minimal orang yang haus bisa pesen minum dan sebagainya. Beda sama juru contong tadi, waton muni (asal bunyi), waton njeplak (asal ngomong) ujung-ujungnya malah menimbulkan rasa tidak simpati dan neg bagi kawulo, apa dipikirnya kawulo ini bodoh apa ya mbah... apa dipikirnya kawulo ini tidak bisa mengurai masalah apa ya mbah… sudah gitu ngotot lagi nyontongnya, kesannya kok kaya tidak punya budaya malu, sudah salah ngotot lagi. He…he…he… kui jenenge wong keblinger le, ngerti keliru neng ra gelem ngakoni kelirune (itu namanya orang keblinger le, tahu keliru tapi tidak mau ngakui kekeliruannya).

Kujur kebacut tur kebangeten le, lha di saat kejadian itu kan semua mata dunia mengarahkan pandangannya ke negri Rekiblik Etekewer tho le, minimal ingin tahu apa yang terjadi dan seterusnya akan bertanya tentang pengelolaan keamanan negri, lha kalau di tambah dengan pernyataan yang membuat gaduh seperti itu semakin jatuh lagi ini negri di mata dunia. Kalau tidak salah ada tamu ngetop yang mau datang terus nggak jadi khan le?... Ooo itu lho mbah perkumpulan balbalan yang ngetop di luar sana rencananya mau datang untuk tanding dengan perkumpulan balbalannya negri Rekiblik Etekewer, tapi ya itu tadi nggak jadi datang karena ada yang keburu mbledhos (meletus). Wach tambah runyam itu le kalau begitu.

Kalau simbah amati di negri Rekiblik Etekewer itu kok malah yang suka berulah elit dan petingginya ya le, apa di negri itu pada dipimpin cakil-cakil yang sukanya metakil apa le… ada istilah drakula segala je.. apa ya kawulo negri itu termasuk drakula-drakula juga tho le… He..he..he… simbah ini bisa saja lho, yang mimpin ya tetap manusia seperti kita juga mbah, nggak tahu kalau perilakunya, ya mungkin saja mbah perilakunya pada seperti cakil (raksasa). Lha iya lho kalau simbah perhatikan kok malah petingginya yang pada usreg, ngusregki kawulonya alias ngisruhi thok. Apa ordenya sudah berubah nama menjadi orde kisruh ya le…. ha....ha...ha.... (simbah ketawa dengan istilahnya sendiri).

Otak pelaku tindakan biadab ini kalau tidak salah khan warganegara Jaran tho, dulu yang satu sudah mati, tinggal satu, kok ya petinggi Rekiblik Etekewer tidak ada yang bersikap bagaimana gitu, apakah sikap pernyataan keras terhadap negri Jaran karena warganegaranya sudah merusak negri Rekiblik Etekewer, anehnya kok bukan di negrinya saja dia melakukan. Harus ada pernyataan tegas sikap politik negri Rekiblik Etekewer untuk meminta pertanggungjawaban negri Jaran !!!... Disini dibutuhkan orang yang berani mengambil sikap demi kedaulatan dan martabat rekiblik,  setelah itu pertanyaannya berani tidak itu petingginya, ini merupakan salah satu cermin untuk melihat & menguji leadership si pemimpin.

Balik maning nang topik, simbah jadi bertanya-tanya, kalau memang benar para aparatnya sudah punya data hasil telik sandi lha kok nggak segera diambil tindakan secara tegas, paling tidak khan kejadian yang memilukan itu bisa dicegah tho le... lha dagelannya sudah kejadian kok malah ngungkap data rahasia ada drakulanya segala. Validitas datanya bagaimana? (wuuiiikkk simbah rada modern bahasanya...), jangan-jangan itu data ABS alias bapak senang saja wach khan malah runyam le. Runyam bagi yang mengeluarkan pernyataan dan runyam bagi kawulo yang mendengarnya. Bagaimana tidak, kalau data yang masuk dan dijadikan acuan itu sampah lha yang keluar nanti juga sampah tho?..

Bukankah kalau tidak salah setiap para petinggi itu khan punya penasihat tho le, ya kayak di perdikan kita ini. Kalau penasihatnya sengkuni semua khan ya kasihan petingginya tho, bukannya mengangkat malah menjerumuskan, gawat itu le. Kayanya perlu dikontruksi ulang para penasihatnya, dipilih, dipilah dengan cermat dan hati-hati agar jangan menjadi bumerang. Sejarah sudah membuktikan bahwa seorang petinggi akan jatuh bukan karena orang yang jauh seperti lawan politiknya, melainkan karena orang-orang terdekatnya, biasanya memerankan diri seperti sengkuni dan berkonspirasi secara diam-diam  demi keuntungan pribadinya (diam-diam bahasanya simbah boleh juga nich....)

Kalau menurut simbah, langkah bijaksana dan mendesak harus dilakukan adalah dinginkan gemuruh hati kawulo, rangkul segenap komponen negri baik kawan maupun lawan politik untuk bersama-sama memberantas perilaku-perilaku biadab para teroris agar tidak hidup di negri Rekiblik Etekewer. Perintahkan para perangkat dan aparatnya untuk bekerja lebih keras lagi, ajak kawulo untuk proaktif minimal informasi-informasi yang berguna dalam rangka menuntaskan penyelesaian masalah tersebut. Publikasikan sampai kepelosok-pelosok orang-orang yang dicurigai terlibat dan sebagai kelompok pelaku, beri alamat jelas untuk pengiriman informasi. Lakukan secara terus menerus sehingga negri bersih dari tindakan dan kelompok teroris. Apapun juga yang namanya tindakan teroris itu selalu anti kemanusiaan, jawabannya adalah segenap komponen bangsa dan rakyat harus melakukan sebuah perlawanan agar doktrin yang disebarkan melalui cara-cara terorisme tersebut tidak mendapat tempat di kawulo.

Tidak kalah pentingnya bersihkan juga para petugas dan aparat-aparat korup dari negri sehingga kawulo merasa tidak sia-sia memberikan sumbangsih dan menjadi semakin peduli untuk proaktif bersama-sama menanggulangi. Karena mental-mental korup ini juga diantaranya yang menghambat kepentingan negri. Ciptakan wajah ramah para pelaku publik service (simbah nglondho lagi nich...) sehingga kawulo tidak segan-segan untuk menyampaikan segala permasalahan yang berkaitan dengan masalah apapun, dengan demikian akan terjalin kerjasama yang baik dalam pengelolaan negri, terlebih penting lagi belajar menjadi beradab yang lebih lagi (wwwuuuiikkk... simbah mulai mengeluarkan khasanah nglondhonya)

Yo le kita doakan semoga Rekiblik Etekewer diparingi (diberi) Gusti Allah hati yang mengerti dan petingginya diberi jalan terang, hikmat dan kebijaksanaan agar dapat menyelesaikan masalah dengan adem tapi selesai tuntas, agar segala tindakan dan pernyataan empan papan, agar kawulo menjadi tenang, citra negri kembali terangkat di mata dunia.

Kita doakan juga agar para elit dan petingginya tidak menjadi sosok-sosok pengisruh sehingga tidak menjelma menjadi orde kisruh, kasihan kawulo, dengan demikian ketenangan dan kedamaian itu boleh nyata dirasakan dan dinikmati oleh segenap komponen kawulo dan negri.

Jika menjadi pemimpin jadilah pemimpin yang bijaksana dan berhikmat, perilaku yang santun untuk digugu dan ditiru, bersikap dan bertindak tegas, berani berkorban untuk kawulonya (jangan sebaliknya). Menjamin ketenangan dan kedamaian segenap kawulo untuk menyembah Gusti Allah dengan cara dan keyakinannya masing-masing, bukan malah ada orang beribadah untuk menyembah Gusti Allah diosak-asik (kacaukan), jika ada yang seperti ini pemimpin tersebut harus bertindak tegas dan berantas perilaku-perilaku yang suka memberhalakan pembenaran kelompok dan golongannya tersebut, jangan justru dibiarkan saja karena ini bisa jadi bibit yang tidak baik dalam berbangsa dan bernegara, terlepas alasan dan dalih apapun. Sebab yang mempunyai hak menilai benar tidaknya ibadah dan keimanan seseorang hanya Gusti Allah saja yang punya hak, dan itu mutlak hak Gusti Allah, manusia tidak punya hak (lha wong masih pada tidak tahu kaplingnya di surga atau neraka tho?). Jika siap seperti di atas silahkan jadi pemimpin, pemimpin yang baik akan membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi segenap kawulo negri, ingat segenap bukan sebagian !!!.

Peradaban manusia tidak pernah surut kebelakang melainkan semakin maju kedepan, maknai peradaban itu dengan perilaku-perilaku beradab (bukan menyelesaikan masalah dengan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan), santun, hati yang berpengertian dan berakhlak mulia, sebagai sesama manusia ciptaan Gusti Allah yang memiliki hak yang sama akan kehidupan di hadapan Gusti Allah.

Wong urip kui mung mampir ngombe lan sak dremo nglakoni (orang hidup itu ibarat mampir minum dan cuma sekedar menjalani), dadhio wong kang utomo (jadilah manusia utama). Harapan kedepan semoga tidak terjadi lagi tragedi seperti Tragedi Bom JW Marriot dan Ritz Carlton agar bangsa ini dapat dengan tenang menjalani kehidupan yang sudah demikian pelik dalam perekonomiannya, serta Orde Kisruh Para Cakil ini dapat segera usai dan diberantas habis.

Go Back

Seorang pemimpin juga harus tegas, berani dan keras terhadap tindakan terorisme.

terlebih lg seorang pemimpin harus menginsyafi dan mengamini tentang resiko posisinya. jangan mau posisinya tp tdk mau resikonya, jk spt ini patut dipertanyakan kualitas jiwa kepemimpinannya



Comment