Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Memanusiawikan Pemudik Memanusiawikan Lebaran

September 26, 2009

REKIBLIK ETEKEWER  XV – MEMANUSIAWIKAN PEMUDIK DAN LEBARAN

Lebaran sebentar lagi, sebuah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat. Momen penuh kisah dan kenangan berulang dari tahun ke tahun. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa menyambutnya dengan alur cerita masing-masing. Dibalik sukacita menyambut momen indah tersebut masih terselip sebuah pertanyaan yang belum kunjung terjawab, sudahkah ”memanusiawikan pemudik ?”  atau bisa diungkapkan untuk lebih luasnya sudahkah ”memanusiawikan lebaran?

Ngger pager pekarangan ngarep wes rampung dilabur durung?... (dilabur = dilapisi seperti ngecat dengan menggunakan kapur dicampur air), dereng Mbah, tasih didandhosi rumiyen sekedik (belum mbah, masih diperbaiki dulu sedikit). Sebuah bentuk kebiasaan yang dilakukan oleh kawulo perdikan setiap kali menyambut hari istimewa lebaran, mengecat ulang rumah, pagar dan membersihkan lingkungan sekitar. Bagi para ibu dan perempuan sibuk menyiapkan bahan-bahan panganan, membuat kue serta kebutuhan lainnya.

Setelah semua aktifitas selesai, menjelang malam terlihat Simbah dan cucunya santai di depan televisi menikmati acara yang disajikan. Ngger golek saluran warta Negri Rekiblik Etekewer (cari saluran berita Negri Rekiblik Etekewer), biasane dho nyiarke bab kaitane bodho lebaran (biasanya menyiarkan hal berkaitan hari lebaran). Paling nggih ngeten-ngeten mawon Mbah mbhoten wonten peningkatan layanan ingkang manusiawi lan langgeng kangge poro pemudik (paling cuma gitu-gitu juga mbah, tidak ada peningkatan layanan yang manusiawi yang berkelanjutan untuk para pemudik). Lho kamu kok bisa berkata demikian to Ngger, khan mestinya ada to, lha wong momen lebaran itu selalu ada dari tahun ke tahun kok, tentunya kekurangan yang lalu sudah ada perbaikan sekarang to. Seharusnya ya begitu Mbah, tetapi yang namanya perbaikan secara signifikan di Rekiblik Etekewer itu cuma teori kok Mbah, jadi ya jangan heran masalah yang sama selalu terjadi lagi, berulang dan berulang. Sek...sek...sek... sini..sini apa tadi ngger, wach Simbah ini ndesitnya kok nggak hilang-hilang to he...he...he... signifikan, arti mudahnya jelas, nyata dan bersifat langsung Mbah, you know? (si cucu bercanda)... haesss nglondho nech, mbuhhh... (Simbah protes)

Setiap menjelang lebaran, harga sembako dan kebutuhan lebaran yang sudah selangit jadi drastis tambah melangit sampai ke langit ketujuh, ini sama saja penindasan terselubung to Mbah. Disaat para saudara kita mau merayakan hari kemenangan, disaat itu pula ditikam ekonomi keuangan mereka. Dalih dan alasan petinggi dan pedagang sama saja, sama-sama bikin neg kawulo. Masa iya to Mbah sebuah kekuasaan pemerintah negri dikalahkan oleh para pedagang nakal?... lha apa gunanya sebuah negri... seharusnya otoritas pemerintahan negri mengendalikan agar itu tidak terjadi, katanya memiliki kuasa, lha mbok kuasanya itu digunakan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan kawulo rakyat, lha mbok bergerak cepat, bukan  cuma bergerak cepatnya hanya ketika dirinya merasa terancam saja. Ironisnya lagi Mbah, ternyata banyak para spekulan nakal itu ternyata dibelakangnya justru segelintir oknum petinggi dan aparat negri, biasalah Mbah hanya mementingkan perut sendiri, seharusnya pemikirannya  khan tidak boleh begitu.

Simbah pasti belum dengar, ada aturan baru bahwa pemudik bermotor dengan penumpang lebih dari dua akan ditilang. Ini peraturannya yang geblek atau yang membuat aturannya yang geblek atau yang memberi ide aturannya yang geblek. Kalau mau membuat peraturan itu mbok ya dikaji yang mendalam dan komperensif, menggunakan dasar-dasar yang jelas dan manusiawi, jangan landasan geblek malah dipakai jadinya ya produk geblek para geblek-geblek to Mbah, ini jelas-jelas merupakan salah satu bentuk yang tidak memanusiawikan pemudik.

Apa iya karena sebuah kejadian tragis mudik tahun lalu ada anak kecil yang meninggal dalam perjalanan, apa iya jumlah kecelakaan sangat tinggi dan mengerikan, apa iya hal-hal tersebut sudah mewakili dan dapat digunakan sebagai landasan pembuatan aturannya. Itu khan kasuistik aja to Mbah, benar kejadian anak kecil yang meninggal, kecelakaan-kecelakaan yang terjadi itu membuat kita prihatin, tapi khan tidak bisa digebyah uyah (generalisir) untuk sekian puluh juta pemudik seolah-olah begitu to. Padahal Rekiblik Etekewer itu khan banyak orang pinter, terbukti banyak yang memiliki prestasi pada forum-forum di luar negri, termasuk salah satu juara korupsinya, kkkaaakkk... kkkaaakkk...kkkaakkk... hhhhuuusss.. kok malah ngakak to Ngger... Iya lho Mbah, mbok ya manusia-manusia yang notabene menjadi penguasa di tingkatannya itu mbok belajar menjadi beradab kenapa tho.., agar apa yang dihasilkannya merupakan sebuah hasil peradaban yang tidak memalukan, gicu lho boosss...

Ya bener Ngger semua itu ada latarbelakang sebagai landasan berpikirnya, peraturan harus dilandasi latarbelakang, pemudik melakukan perjalanan mudik juga dilandasi latarbelakang, masalahnya tinggal latarbelakangnya siapa yang waras Ngger. Kewarasan ini bisa dinilai dari tingkat kemanfaatannya yang empan papan. Pemudik melakukan perjalanan mudik menggunakan fasilitas sesuai batas kemampuan ekonomi keuangan mereka. Bagi mereka yang kemampuan ekonomi keuangannya berlebih mungkin tidak ada masalah, lha wong mereka punya keleluasaan milih. Bagi mereka yang ekonomi keuangannya pas-pasan dan tidak mampu piye jal (bagaimana hayo), apakah aturan yang ada sudah mengakomodasi perlindungan dan layanan yang manusiawi bagi mereka?. Bagaimana seperti transportasi umum kelas ekonomi?... jumlahnya memadai?,  bagaimana fasilitasnya, wajar atau tidak?... penyediaan tiket sesuai jumlah sarana? atau ironisnya jml tiket beredar lebih banyak ketimbang jumlah ketersediaan fasilitas ?... dan sebagainya Ngger.

Kembali kemasalah pemudik bermotor tadi Ngger, lha wong mudik dengan bermotor sudah membudaya dari tahun ke tahun, masalahnya jelas karena faktor keterbatasan kemampuan ekonomi, khan seyogyanya para aparat dan petinggi negri itu memikirkan bagaimana membantu mereka agar tetap aman dan nyaman, dalam perjalanan selamat tanpa harus menciderai tingkat kemampuan ekonomi mereka dan tujuan mereka mudik. Misalnya dengan memberikan layanan pengawalan gratis, dikoordinir dimana untuk berangkat bersama, dibagi dalam berapa jadwal dan sebagainya, itu hanya masalah teknis saja. Intinya yang paling penting adalah memberikan perlindungan dan layanan yang manusiawi, itu baru namanya memanusiawikan pemudik. Lha kalau penumpang motor lebih dari dua ditilang, pertanyaannya bagaimana dengan mereka yang sudah berkeluarga dan punya anak, sementara ekonomi mereka pas-pasan, apakah tidak berhak mudik?... apakah petinggi itu mau membayari untuk menggunakan fasilitas lain?... ngono yo ngono neng ojo ngono (gitu ya gitu tapi jangan begitu)

Belum lagi masalah sarana jalan, lha wong di negri Rekiblik Etekewer itu sekarang berkembang standar baru jee Mbah, standar jalan kualitas lebaran jeee... he..he...he... Maksudmu piye Ngger... gini Mbah maksudnya, menjelang beberapa minggu sebelum lebaran, gupyuh memperbaiki jalan-jalan, terutama jalan-jalan yang dipandang jalan utama saja (gampang dilihat??!!...), sehingga saat lebaran jalan-jalan terlihat mulus, sebelum lebaran tahun berikutnya jangan tanya Mbah, memproduksi sumur di tengah jalan, kalau bahasa keren nglondhonya alias dedelduel, he...he...he... bisa dibayangkan berapa besar jumlah kerugian keuangan negri yang nyata-nyata milik rakyat itu dihamburkan secara simultan. Tidak memiliki biaya?... heeleeehh..mbel, nggak ada biaya kok bisa ngejoki dana Bank Centengmburi. Atau malah mungkin disengaja oleh oknum-oknum agar bisa dapat proyek terus dan dana mengalir terus ke oknum petinggi tertentu?... lagi-lagi perilaku cakil Mbah.

Lho lha pajaknya para kawulo negri terus kemana Ngger?... Simbah ini gimana tho?... kok nanya saya lho... lha wong saya bukan tukang pajak jeee.... Simbah tanya langsung saja ke tukangnya yang perutnya pada buncit itu. Kalau nggak ke lembaga itu lho Mbah yang punya slogan ”hari gini belum punya nomor .... pajak? Apa kata dunia?” lucu ya Mbah slogannya, lha kalau dibalas dengan slogan ”hari gini masih ngemplang pajak rakyat, apa kata neraka?”.... mungkin setannya pada tepuk tangan asyiikkk... "temenku" tambah banyak.. he...he..he... atau malah jangan-jangan setan dan iblisnya balik lagi menghadap GUSTI ALLAH untuk minta job baru, lha angkat tangan jeee...ternyata manusianya disini ilmu kejahatannya jauh lebih hebat dari ilmunya setan dan iblis jeee... kkkkaaakkkk...kkkaakkk... husss

Sampai saat ini masalah berulang masih menjadi pemandangan, harga sembako kebutuhan lebaran melambung ke langit ketujuh, sarana jalan transportasi seumur jagung kualitas lebaran, peraturan tidak memanusiawikan pemudik, sarana transportasi umum kelas ekonomi tidak dilayakkan, mestikah negri Rekiblik Etekewer tetap  mempertahankan centang prenang kepelayanan publiknya?... Memanusiawikan pemudik, memanusiawikan harga-harga kebutuhan lebaran, memanusiawikan fasilitas transportasi umum merupakan bagian dari memanusiakan manusia, memanusiakan manusia merupakan bagian dari memanusiawikan lebaran itu sendiri agar benar-benar menjadi lebih bermakna bagi kalangan bawah yang notabene berekonomi lemah. Kemudian pertanyaannya kapan akan dilakukan?.... memanusiawikan pemudik, memanusiawikan lebaran.  Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 h, Mohon maaf lahir & bathin, semoga di hari yang fitri menjadikan hati dan pemikiran kembali menjadi fitri, Amin&2y

 

Go Back

Comment