Bersama Sukses

pengetahuan rakyat adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai

header photo

 

Blog posts : "kumpulan puisi"

Save Tropical Forest Now

Save Tropical Forest Now

 

Hujan luruh tanpa batas,

Adalah tangis pertiwi nan terbelah lantak,

Pada tanah koyak dari hutan yang tercerabut,

Oleh keserakahan yang memustahilkan keseimbangan,

Manusia... ya manusia !!!...

 

Burung gagak tercekat tanpa teriak,

Parau dan pekik sumbang terus saja diperdengarkan,

Di antara kerontang batang meranggas menahan siksa,

Tanah kian tandus tanpa bekas kata....

 

Tiada lagi akar ataupun warna-warni renik,

Tiada lagi rumput ataupun lumut,

Tempat percik air menari dan bergayut....

 

Keserakahan menjelma berhala yang kian gagap saja,

Lantas...???? kemanakah air khan sembunyi...?????

Hutan bukanlah warisan nenek moyang,

Melainkan titipan anak dan cucu kita !!!!...., bangsat !!!!...

 Tbg&2yRud-27112010

Read more

Sketsa Ki Bloko Suto

Sketsa Ki Bloko Suto  

Suatu siang, sesosok tubuh tercacah...., terlentang tengadah matahari.

Siapa dia?..... Seseorang berbisik;.... Ki Bloko Suto !!!

Memangnya siapa Ki Bloko Suto?... terdengar sahutan ... orang yang selalu bloko suto !!!

Kapan dia mati?... suara itu bergumam;... ketika sedang bloko suto !!!

Dimana dia tewas?... Seorang nenek berkata;.... di bloko sutonya !!!

Bagaimana dia mati?... sebuah suara dengan sareh berkata;.... ditujah keris sakti Kyai Ageng Bloko Suto !!!

 

Lalu kenapa lukanya arang kranjang?... Jengkel, seorang Bapak menjelaskan:

kami congkel matanya, karena selalu melihat bloko suto,

kami sobek mulutnya, karena selalu berbicara dengan bloko suto,

kami kerat tangannya, karena selalu mengambil bloko suto,

kam…

Read more

Fragmen Kali Opak

FRAGMEN KALI OPAK - 310506

Masih jelas dikeningku,
Canda tawamu ramaikan tubuh kali opak,
Masih jelas dikeningku,
Sumringahmu ketika ikan tertambat di kailku,
Bekal kita mencumbu malam
Masih jelas dikeningku,
Punggung hitammu berkerlip diterpa terik,
Saat kau sembunyi di riak merdu bening kali,
Ya disitu, dibawah makam raja kita berpadu,
Satu rantang, satu perapian, satu hati,
Masih jelas di keningku,
Saat kutambat seekor moa,
Kau sangka peri yang sedang menari,
Wajahmupun menjadi pasi hingga aku menjadi geli,
Teramat jelas dikeningku,
Tentang luluh lantak tempat kita dipesisir,
Tentang luluh lantak tempatmu berbakti,
Tentang luluh lantak bait-bait diriku kini-&2y.....

( Didedikasikan buat sahabat2ku yang setia menemaniku m…

Read more

Sketsa-060406

S K E T S A - 0 6 0 4 0 6

Rajah-rajah debu beledu semakin beringas
Di lengan langkah sejarah
Pikiranmu adalah puting beliung disenderan geribik lolongan
Berhalakan angkara di pembenaran kehendak
Masih saja nurani kau kutubkan?...
Aku terpaku dibalik tangisan bhinneka
Bersama peluh yang tersayat-sayat
Baru kemarin kucium harum embun kata-katamu
Baru kemarin kau terpakan sejuk di muka pintu
Ataukah hanya lugu yang kian terbelenggu?
Kucoba usaikan babak pada cangkir kesabaran yang terkoyak-&2y

Read more

Galau

G A L A U - 1 9 9 9

Sikapmu tak ubahnya cambuk, menggeliat dikepasrahan tubuhku
Lepaskan kata berkabut di atas tarian
Aku setia tegak berdandan hening
Seulas senyum tertatih dari sela jari bathin


Di tengah gurun dan hiruk pikuk ketulian
Kujelmakan doa nyanyian hati,
Terhimpit dalam tangisan seribu jiwa hening,
Tapi aku percaya masih ada yang mendengar-&2y.

Read more

Serenade

S E R E N A D E

Malam bergulir meraba waktu nan usang
Bait-bait sajakmu gemakan amazing grace,
Pulaskan aku dari nafas lelah, lepas pergelutan tanpa ujung
Menyapu kuas warna-warni hidup

Kesetiaan adalah tanpa koma bacakan syair-syair terlampaui,
Pada karya agung jelas semburat biru halus,
Bak amazon berkelok lintasi pipi salju

Meski usang legenda-legenda, kadang tertangkup ragu makna-makna
Gelap halangi mata perjalanan,
Sementara cerita tidur adakah di mata terbuka
Pada sangsi tak ubahnya mematri
Parau dan keletihanku hanya tatapan, dibingkai sisi pengharapan

Bayang malam ubahkan prasasti pagi,
Aku masih rajawali di ketinggian hening
Selalu kujaga tetap bening
-&2y-

Read more

Yogyakarta 270506

YOGYAKARTA - 270506

Satu lagi nadi hati teriris,
Darahku terpintal tiada rupa,
Saat kesombonganmu belum lagi genap hengkang dari kecamuk,
Perdebatkan sesuatu yang tak kau pahami,
Rendahkan jiwa berlaksa generasi yang telah menyatu,
Koarmu hanya pembenaran di mataku,
Itupun kau berhalakan??....
Aha...pemahamanmu tak lebih debu di belantara kearifan tradisional
Masih sajakah kepongahan di rajakan?...

Babak lepas subuh teramat memilukan,
Menghantam semua yang ingin kau hantam,
Bahasamu teramat pedih ditanggungkan,
Aku terkapar....aku terkapar....
Terjerambab di hati yang terpilin...
Air mata tak lagi ada, darah bagai sesuatu yang belum ada,

Masih tersisa lekuk sungaimu di aortaku,
Masih tersisa harum padimu di paradigmaku,
Ma…

Read more

Sketsa Tawar

S K E T S A  T A W A R

Tawa-R-mu seakan menjadi tawaR ketika kau suguhkan sebingkai tawaR di tengah orang saling tawaR tentang kehidupan yang kian tawaR saja.

Ruang di seberang sana, orang gila tergelak bahak dan tertawa-R tawa-R saling tawa-R kejujuran, ataukah dirimu juga…..

Hhmmmm...perjalanan tak ubahnya sebuah roti tawaR, dikerat agar bermakna meski tetap saja roti tawaR, seperti bedebah menari-nari tiada memahami makna, bagaimana dengan dirimu ?... Waktu tak pernah lelah ketika tawarkan babak, para bedebah masih saja tawar menawar tentang kebenaran bak pasar pagi yang kian pikuk saja, atau aku yang telah tawar dari tawaR menawaR yang kau tawarkan dengan hati tawaR ….

Hentikan saja tawaR menawaRmu, sebab itu tak ubah pecundang…

Read more

Puisi Sketsa Sembilan

SKETSA SEMBILAN  1995

Benak-benak menggerayang nadir
Menyurukkan lorong bathin antar kala,
Lepas..bebas….bablas……..

Kijing-kijing peradaban jiwa didengungkan
Mata hati tak kuasa bertutur pedang,
Membedah tabir semesta penyadaran
Terbungkam di kapling pencampakan

Gagap nurani meringkih lirih,
Kemenangan adalah berhala, raja dari segala pemuasan
Kebenaran tak lagi sukma, sekedar prosesi penghias basa-basi
Masih ampuhkah Iman, rumah dari firman-firman
Sementara kendali dikenikmatan semusim,
Semakin pekat menjerat kuat
... Munafik !!!!... (merapi’0995-&2y)


Read more

Puisi Fragmen Lalu

FRAGMEN LALU

Sajak kemarin masih tinggalkan titian
Sayap terkepak bertabur bintang
Masih disitukah engkau kekasih.....
Lihatlah langit kehilangan kata
Masih disitukah engkau kekasih....
Ijinkan aku cintai sederhana hatimu
Sebab gemerlap lampu bukanlah jiwaku...
Ijinkan aku siapkan peraduan
Rajutan ilalang berpintal nafas...
Ijinkan aku sematkan anting
Embun berkerlip mentari bathinku
Ijinkan aku sematkan pita
Edelweis gunung diparuh jiwaku
Ijinkan aku hiasi warna gaunmu
Dari warna-warni kembang padang semestaku
Kekasih...ijinkan aku cintai sederhana hatimu
Sebab hatiku hanya sederhana..
--&2y--

Read more

Terimakasih

TERIMAKASIH

Tuhan terimakasih,
Telah KAU percayakan hati di jiwaku
Untuk bercermin tentang kemurnian
Segala hidup dan kehidupan....
Tempat menemuimu dalam kerinduan,
Dan bertanya tentang segala hakekat,
Kasih dan kejujuran,
Cinta dan pengkhianatan,
Kebenaran dan dosa,
Dan segala hakekat yang terlupakan
Tuhan terimakasih…....
Telah KAU percayakan rumah untuk KAU tempati
Telah KAU percayakan padaku rumah doa yang bening..
--&2y--

Read more

Puisi Fragmen 180801

FRAGMEN 180801

Gereja di hatimu adalah kidung-kidung cahaya di langit malam
Amienmu jelmakan senyum di pelataran bintang
Baiknya kulukis saja pada kanvas cakrawala di bingkai fajar
Ragamu rumah rajutan makna doa-doa ibu
Indah membekasi jiwa-jiwa
Engkau gelar selendang harap beriring bidadari langit genggami
pelangi
Laut di mataku beranjak tidur bersama hati yang bersayap
Adalah buah kehendak Sang Khalik --&2y--

Read more

Puisi Sketsa Duabelas

SKETSA DUABELAS  1999

Berapa lama lagi di perhentian, sementara waktu lalu lalang berbeda gaun
Warna warni tak kupahami kau sodorkan, di mukaku yang berpeluh darah
Kakiku tak lagi berupa, berubah bayang terkikis angin

Berapa lama lagi di perhentian, langkahmu bersimpang arah
Mematut diri bergenggam nisan masa lalu

Berapa lama lagi di perhentian, tulang-tulang beranjak keriput
Dan rambut-rambut semburatkan awan

Berapa lama lagi di perhentian, mereguk debu-debu penantian
Satu-satu berurai serpih tak bertuan --&2y--

Read more

Puisi Kangen

KANGEN

              Masih terlukis di benang kepala                
Kelebat desah hatimu
Kau ucapkan tangan di helai putih
Tawa dan airmatamu menggurat
Masih terlukis di benang kepala
tentang rinduku
Seperti embun mananti bias kelopak senyummu --&2y--

 

Read more

Petaniku

 P E T A N I K U

      Satu-satu hamparan coklat terbalik, mengalun irama satu-satu Sesekali terhenti diseling jeda waktu, bertalu dan terus bertalu
Tangan terangkat peluh terusap, kadang badanmu tegak lalu terbungkuk
Legam kulit tak mengotori api, meski keras tempatmu berpijak

Satu-satu terlalui dalam kesabaran
Satu-satu terlampaui penuh ketabahan
Tanpa pernah memaki, walau panen tak pasti
Meski keras tempatmu berpijak, penuh batu dan badai tak tentu

Satu-satu lalui hari
Satu-satu lengkapi waktu
Satu-satu lukisi hidup
Satu demi satu ujur usiamu
Namun semangat tak pernah luntur, hingga genap di liang kubur --&2y--

(sebuah rekaman buat saudara-saudaraku, petani dipegunungan kapur, Dlingo- 1993)

Read more

Fragmen Dua

FRAGMEN DUA

Jika nadi rajutan kasih kesetiaan,
pasti terpendam kesepian telinga hati
Hening tiada tersentuh musim peradaban
Denyut tak sebatas kapan pada penantian

Meski jelaga memekat di titian pandang,
sengal nafas bergenggam bathin
Menyibak tabir semesta jatidiri
Membuka tak semestinya terpagari,
sebab perbedaan mewujud jurang di matamu

Jika rajawali berserah arti,
adalah pergerakan tak berhitung hari
Insyaf pemahaman mewujud jembatan mengerti --&2y--

Read more

16 Blog Posts